Posted in Diari

Ketika Ia Tidak Lagi Menjadi Milikku

Kehidupan ini unpredictable. Serba lengkap dan berpasang-pasangan. Ada yang datang, ada yang pergi. Ada yang baik ada yang buruk. Dan begitu seterusnya sesuai dengan janjiNya yang tertera di dalam kitab suci al qur’an bahwasanya Dia menciptakan segala sesuatu secara berpasangan.

Hari ini ada yang lahiran. Besok ada yang berduka. Hari ini ada yang tertimpa nasib baik, ada juga yang sial binti apes. Eniwei kalau dipikir-pikir lebih dalam dan terkaji, semua itu semata-mata bentuk penilaianNya kepada hamba-hambaNya sejauh mana mereka bersyukur atas apa yang telah diberi. Bukan hanya kesenangan yang patut disyukuri, terserang musibah juga kudu disyukuri. Karena Dia mencintai hamba-hambaNya, maka dengan cara apalagi Dia akan mengukur kadar kecintaan hamba-hambaNya kepadaNya?

********

Dua hari ini saya mendapat pelajaran yang sangaaaaat penting. Pelajaran hidup yang tidak saya peroleh di bangku pendidikan. Pelajaran akan “rasa kehilangan” terhadap sosok mayoritas yang bahkan hampir ada di setiap suka-duka ia selalu ada. “Ayah”. Kemarin, paman saya yang tercinta dipanggil Sang Pemilik Hidup. Dilepaskan olehNYA segala rasa sakit, segala macam dosa yang akan beliau perbuat jika masih berumur panjang. Betapa Dia mencintaimu, paman?

Sosok almarhum yang saya kenali ini adalah penggambaran dari apa yang kita sebut “ayah”. Mengayomi anak-anaknya sebagai nahkoda maskapai hidup untuk menuju surgaNya. Hasil dari buah pernikahannya dengan bibi (panggilan untuk adik kandung ayah/ibu) saya melahirkan 3 orang gadis cantik nan energik. Ketiganya amat-sangat-DEKAT-banget-sekali dengan almarhum. Jangankan gadis-gadisnya, kami para ponakanpun dekat dengannya. Sosok yang oleh kami ponakan menyebutnya diary berjalan. Sosok yang mampu menfilter kegalauan para ponakan menghadapi prahara galau di usia “WAJIB NIKAH!”.

Setelah berpulangnya sang paman, yang ada dalam pikiran saya adalah BAGAIMANA KETIGA GADISNYA MENGHADAPI HARI-HARI TANPA SOSOK AYAH? Berat! Pasti berat. Disadari atau tidak, hubungan emosional ayah dengan anak perempuannya jauh lebih erat ketimbang dengan ibu. Jika saya salah, mohon koreksinya🙂. Saya pernah baca tuh sebuah penelitian yang bunyinya kek gini “Kelekatan antara seorang ayah dengan anaknya akan membawa dampak positif bagi perkembangan anak. Anak akan merasa percaya diri, mampu membina hubungan yang hangat, mengasihi sesama dan peduli dengan orang lain, displin, dan memiliki pertumbuhan intelektual dan psikologis yang baik. Sebaliknya seseorang yang kurang lekat dengan ayahnya akan memiliki masalah emosional, dan secara psikologis anak merasakan ketidaknyamanan, kurang percaya diri serta memiliki konsep diri yang negatif.”

Dua hari kepergian sang paman gadis-gadisnya (red : sepupu sekali saya) terlihat kacau balau. Depresi. Belum siap menerima kenyataan pahit ini, apalagi meninggalnya sang paman yang begitu mendadak. Ada pergolakkan batin yang mereka rasakan, yang mereka alami. Hari-hari yang dilalui bersama ayah, kini tak akan sama lagi. Solusi dari pemecahan masalah-masalah yang dihadapi kini tlah pergi. Curhat-curhatan, kini tak ada lagi. Yang ada hanya seonggok kenangan yang tak akan terlupakan.

********

Tidak terbayangkan jika saya berada diposisi mereka. Saya pun sama dengan mereka yang begitu dekat dengan sosok ayah. Hari-hari saya penuh dengan cinta dan sayangnya. Bahkan ibu (terkadang) cemburu pada ayah juga saya,hehehe. Memikirkannya saja sudah tidak sanggup, apalagi jika merasakannya!

Pesan Moral :

1. Bagi yang masih memiliki orang tua lengkap, berbaktilah pada keduanya. Ajal tak ada yang bisa menduga kapan datangnya🙂

2. Terkadang bentuk kecintaan orang tua kepada kita terletak pada “marah”nya mereka (nyambungamajudulgasih?)

3. Sayangilah keduanya ^^

4. Kehilangan salah satu diantaranya itu akan meninggalkan nyesek di hati sepanjang masa🙂

Penulis:

Nyonya Fid Aksara | Emaknya Yusuf | Gawe FKM UHO | RockenRoll Mommy | Find me at : waode.raya@gmail.com

57 thoughts on “Ketika Ia Tidak Lagi Menjadi Milikku

  1. turut berduka cita ya Ray. like untuk menandakan betapa setujunya bahwa kehikangan figur orang tua memang sesuatu yang berat dan betapa peran orang tua begitu penting untuk kehidupan anak-anak mereka

    1. bangeeeeeet om dan.. bangeeeeeet!
      Orang tua tuh ibarat kompas. Kiblat kehidupan. Ibarat sayap. Jika salah satunya patah, pastinya akan hilang keseimbangan, kecuali salah satunya mampu berfungsi secara ganda..

      Semangat menjadi orang tua buat om dani ^0^

  2. Kehilangan selalu meninggalkan rasa sedih, semoga almarhum paman diampuni semua dosanya, diterima semua amal sholehnya, diterangkan diluaskan kuburnya, dan yg ditinggal dilimpahkan kesabaran dan ikhlas..aamiin.

    Bunda juga kangen berat sama almarhum ayah… :`(

  3. Turut berduka ya raya .
    Saya pernah ada di posisi anak-anak pamannya Raya dan memang sangat berat, seperti ada ada yang hilang dan merasa marah akan hidup yang sepertinya tak lagi adil.
    Waktu memang menjadi obat penyembuh yang paling ampuh. Semua nya butuh proses dan lamanya waktu tergantung masing2 pribadi.
    Yang mungkin bisa kita sebagai kerabatnya lakukan adalah memberi semangat dan tetap berdoa agar diberi kekuatan. Semoga Tuhan memberi kekuatan bagi Raya sekeluarga *amin*

    1. amin…
      terima kasih masya…
      Ya…
      waktunya obat paling ampuh. Sembari menjalani proses penyembuhan luka dan kesedihan tentunya kerabat harus ada di sisi mereka..

      terima kasih masukannya masya🙂

  4. turut berduka nengRay, semoga diterima disisiNYA yg terbaik…buat sepupu2nya, semoga kuat dan tabah. Dulu aku juga bgitu pertama kehilangan ibu, depresi dan penuh emosial tp Alhamdulillah lambat laun pudar, semoga kuat dan tabah yaahhhhhhhh….

    kalau bicara soal ayah, larass gak dekat

    1. amin .. terima kasih doanya mbak las🙂..

      sepkat ama mesya ya kalau waktu adalah obat ampuh untuk menghapus kesedihan akan kehilangan salah satu sayap kehidupan kita?

      semangaaaaats mbak ^^

  5. innalillahi wainna ilaihi rojiun.
    turut berduka cita kak ray.😦
    emang bener banget kak, kematian itu tak bisa kita duga.
    dan selagi orang tua masih komplit, minimal ada, sebaiknya kesempatan berbuat baik digunakan sebaik-baiknya..😥

  6. Turut berduka ya Raya. Yang tabah menghadapi semua cobaan.
    Saya pun mengalami saat ayah meninggal. Tapi kebersamaan antara saya dan kakak serta mama membuat kami bertahan.

    1. *pelok* itu juga yg saya pikirkan,mbak. Sepupu2 sy ini juga masih pada SMA😥

      Tapi semoga dengan bekal pengetahuan dan ilmu yg diberi oleh sang almarhum, insyaalloh akan kuat🙂

      mbak juga pasti kuat🙂

                  1. Jangan dijawab!!!

                    Pemirsa, apakah yang sebenarnya terjadi? Nanti akan kita dengar sama-sama, setelah yang satu ini!

                    Jangan kemana-mana, kami akan kembali satu tahun lagi!
                    😀

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s