Posted in Diari, Rafid Family

Tragedi Mol

Sekarang gw paham dan yakini, bahwasanya (rerata) gen kutub negatip babeh, banyak nurunnya ke gw. Salah satunya “pelupa”!. Bukan kodrat faktor usia, tapi kenyataan yang gw kumpulin dari nenek -nyokap kandung babeh- saudaranya bahkan bininya sendiri yang mengungkapkan hal mengenai penyakit babeh itu! Kalau bininya babeh sering kelupaan di pasar, beda lagi ama nyokap kandungnya, pernah ditinggalin di bandara,ckckck..

Penyakit ajaib babeh itu ga pernah gw temuin sebelum-sebelumnya. Apa beliao jaim yaa ketahuan anak perempuannya? huwahahaha. Tetapi semalam,semuanya terungkap untuk kedua kalinya! JEGEEEEEER!

*******

Merasa bahwa persediaan bahan mencuci mulai menipis, akhirnya gw laporan ke babeh, melaporkan kondisi perbekalan untuk mencuci mendekati titik kritis. Mengadopsi pepatah jadul “sedia payung sebelum hujan” akhirnya kami (sebagai anak-babeh kompak) berinisiatip terbang ke mol (ceileee biar kece dikiit) untuk memenuhi kelengkapan rumah tangga. Make jasa tukang cuci (red : loundry) sebenarnya bisa, tetapi konsep “penghematan” dalam keluarga gw merajai sendi kehidupan kami. Kalau kata babeh sih “APA GUNANYA PUNYA ANAK PEREMPUAN KALAU KUDU MAKE JASA LONDRE?” #Modus. Intinya satu HEMAT! hahahaha. *dikeplakbabeh*.

Beginilah nasib kami jika di tinggal mami ke luar kota, jadi serba mandiri dan bertanggungjahad *halah*. Mulailah kami menggerayangi salah satu mol yang ada di Kendari untuk mencari bahan pencucian. Setelah semua lengkap, kami ke kasir. Sesuai dengan standar operasional sistemnya, mbak-mbak kasirnya menyapa kami dengan antusias. Ngucapin selamat malam tidak ala evie tamala dan mulai menjalankan fungsinya menghitung barang-barang pembelian kami.

“Totalnya tiga ratus ribu sekian,sekian”

Gw merhatiin babeh yang juga sedang memperhatikan gw. Gw naik-turunin alis sebagai pengungkapan bahasa isyrat yang kalau diterjemahkan bunyinya gini “bayaaar,beeh” yang juga dibales sebaliknya ama babeh. Gw menaikkan pundak dan babeh dadah-dadah (ala miss universe) ke gw yang artinya “BAPAK GA BAWA UANG,RAYA”.  Gw mlotot dan geleng-gelengin jilbab yang artinya “ME TOO,BEH.. I DONT BRING DOMPET”. Dan kami hening berjamaah.

Mbak-mbak kasirnya sibuk merhatiin bahasa isyarat antara anak dan babehnya. Sementara di belakang kami padat antrian! Babeh mendekati si kasir dan kembali bertanya..

B : “berapa tadi totalnya?”

K : “tiga ratus ribu, sekian-sekian,bapak”

B : “ga kurang lagi” ealaaaaaah ini mol beh, bukan pasar..

K : *tersipu malu*

B : “titip anak saya. saya pulang ambil duit dulu” dalam bahasa semut

Guuubraaaaaaks

***********

Kejadian kayak gini pernah juga terjadi sekitaran tahun lalu kalau ga salah inget. Ketika hendak membayar, kami bungkam. Bukan karena ga punya uang, melainkan keLUPAan dompet😀. Dan anehnya kejadian kayak begini jikalau mami sedang tidak bersama kami! Kebiasaan ngandalin mentri keuangan di rumah, jadi kalau ngambil barang seenak jidat.

Pesan Moral :

Tanpa mami ajah gw rapuh (ingatan) apalagi babeh ya?. Benar adanya jika IBU adalah fondasi keuangan! xixixixixi😀

Penulis:

Nyonya Fid Aksara | Emaknya Yusuf | Gawe FKM UHO | RockenRoll Mommy | Find me at : waode.raya@gmail.com

56 thoughts on “Tragedi Mol

    1. hahahahahaha,,
      betooool bangeeeeet ^^

      ga tau knp ya,bunda prita? tapi kalau d rumah, ibu bener2 seperti power kehidupan kami. Hal2 yg paling kecil ajah d urusin. Poke semua rebes d tangan beliao🙂

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s