Posted in Blablabla, Diari

#Day 4 writing challenge

34948_107640725953313_5841531_nNamanya Abdul Baris. Titelnya Drs. Sarjana tahun 80-an. Beliao mengklaim, bahwa sarjana tahun 80-an sebanding dengan Sarjana S3 zaman sekarang. Karena perjuangan mereka mengentaskan sekolah strata satu berdarah-darah. Meraih nilai A+ tak semudah anak kuliahan sekarang meraihnya. Kata beliao, kuliah mereka dulu kebanyakan di alam bebas. Dan para dosen berterbangan entah kemana dalam mengabdikan diri untuk pendidikan. Jadi kesimpulannya kuliah beliau dulunya, abis pulang petualangan siap sedia di respon oleh para dosen. Kerennya, dulu itu dosen mereka tidak mau tau, mahasiswanya walau mereka tidak bertatap muka di kelas, tapi harapan para dosen mahasiswanya dapat menguasai materi. Sebodo, nyomotnya dari mana. Jadi mahasiswa era 80-an dulu nongkrongnya di perpus. Gak kayak sekarang, nongkrongnya di mol. Dan itu aku. saya. daku. gw!

Oke, writing challenge kali ini temanya tentang seseorang yang memperi inspirasi. Dan cowok yang gambarnya sebagai opening speech di atas adalah sosok yang mengispirasi wanita yang tulisannya sedang kalian lahap.  Eleuuuuh, cowok. Cowok? Iya, cowok setengah abad. Cowok yang atas perannya jua-lah gw ada di muka bumi ini.

Ga ada sosok lain apa yang lebih menginspirasi dari si kumis manis yang lagi di ceritain di hari kemis ini?

Yang menginspirasi banyaaaak. Ada penulis, penyanyi, artis/actor, ustads, pahlawan, penjahit, Asisten rumah tangga dan banyak lagi. Tapi sosok PNS yang bisa nulis, nyanyi, ekting, pahlawan, menjahit dan jd asisten nyonya mener itu klooop dalam diri si kumis manis ini. Jadi, pssssst.. ini bukan masalah “orang dalam” sampe gw gak make sosok lain yang jd tema challenge kali ini.

*****

Seantero birokrasi kota Kendari rata-rata kenal Pak Aris. Kalimat “loh, bapak yang mandi kok saya yang basah” sempat menjadi trending topic saat melabrak atasannya yang mata duitan. Beliau kalau di luar, ramah lingkungan, penebar energy positif, bela agama, bangsa dan tanah air.  Tapi menyangkut masalah pekerjaan, kilernya kayak Fir’aun. Di kantornya beliau memang bukan kepala dinas, tapi perkataannya sering melukai Kadis yang matre. And that I love it,hahaha. Diam-diam cara beliau menghadapi atasan beginian gw contohin di kantor dan hasilnya ketahuan doong, gw kayak lagi di tepi jurang.

Disiplin garis keras.

Didikan nenek gw niiih yang menjadikan beliao keras kepala soal kedisiplinan. Istrinya ajah dimarah-in kalau telat ngantor. Kata-katanya ga enak “mama ini mau nyuap kita pakai uang haram ya? Terima gaji, sertifikasi tapi kinerjanya kayak gini. Coba tolonglah, susah apa sih masuk kantor tepat waktu? Toh kita tidak punya bayi yang di urusi di rumah” nah loooo, nyokap gw ajah yang terkenal Ratu Aristokrat diginiin ama suaminya. Skakmatt dagh.

Kalau 07.00 on time wajib ke kantor, ga ada alasan apapun. Kecuali kalau emang lagi sakit daaan istrinya ngamuk. Begitupun dengan jadwal ibadah. Ga ada tolerir. Sampe pernah di katain sok alim sama atasannya gara-gara ga mau terima uang hasil suapan kejahatan pertanggung jawaban. Atasannya ibadahny jg bagus. Hanya entah mengapa jadi kesetanan kalau berhubungan sama uang.  Ada benarnya juga kalau sholat itu menjaga kita dari perbuatan keji dan mungkar.

Beliau juga ulet dalam urusan kerumah tanggaan. Saking uletnya beliau pernah dikatain “GA PUNYA MARTABAT” di rumah. Karena ketahuan bantuin nyuci piring, tebang pohon, masak, dll. Apa salahnya sih kalau kepala keluarga terjun langsung ke lapangan?

1450680_491606394279761_1466001972_n
Cinta  Istri,yeeah

Toh bukan dosa besar kalau bantu anak-istri menuntaskan pekerjaan. Masalahnya, pak Aris itu tipikal orang yang gak suka kekacauan. Di kantor ajah diselesaikan apalagi di rumah. Jangan Tanya kalau di masyarakat. Sebagai yang di tuakan di kompleks rumah, beliau sering turun tangan menangani peperangan anak Remas dan Karang Taruna. intinya kekacauan apapun, pasti diberantas!

 

Zaman kuliah dulu, gw sering nodong beliau mengerjakan tugas yang menyangkut karang mengarang soal lingkungan. Hasilnya oke banget, detail. Nilai tugas gw nyaris sempurna di mata dosen. Soal mempertanggung jawabkan gw bisa. Tapi alur menulis yang membentuk kerucut piramida itu anu banget,jendral. Kopral raya semacam gak sanggup. Otak gw kayak lagi salto bolak balik kalau disuruh nulis geginian. Ini pula-lah yang mbikin gw “patah pulpen” dari sekolah keMAGISTERan. Ciciiciciciciyeeee..

Sekitar 10 tahun yang lalu kalau ga salah ingat, waktu ke Makassar, gw di ajak babeh mengunjungi rumah dosennya. Dosennya itu sekitaran umur 70-an tapi memorinya masih kuat. Mengalirlah kisah heroik Pak Aris. Mulai dari jago nulis di beberapa media. Artikelnya dimuat di mana-mana. Bahkan nulis surat cinta,baaaah. Kebetulan yang kami kunjungi itu dosen pembimbing beliao. Kata dosennya itu, Pak Aris cerdas, tangkas, lincah, gesit, irit. Jadi gak heran nyokap gw mau di persunting si kumis manis. Honda dilawan! Dan masih banyak lagi yang bisa 1000 halaman kalau mau nulis apa yang dosbingnya bilang.

Any question,plis?

Apa Pak Aris suka marahin anak perempuannya?

Seriiiiiiiiiiiiing. Coba tebak, apa yang biasa jadi bahan omelannya? Yup, keterlambatan ke kantor. Sini gw lurusin. jadi sebelum ngantor gw mesti beresein cucu pak Aris. Masak makanannya, nyuapin, mandiin setelahnya baru gw yang makan-mandi-pakaian. Kalau cucu beliau udah wangi-ganteng-keren biasanya di bawa jalan-jalan kompleks ama beliao. Masalahnya, tiap cucunya udah siap di ajak jalan, eh,, si kakek sibuk pupukin tanaman. Mangkas-mangkas daun pintu,apalah apalah. Jadi gw bisa apa kalau kakeknya lagi kelihatan sok sibuk gitu?

Jadilah nama gw sedikit melejit waktu jadi bahan ceramah babeh saat khotbah jumat yang judulnya “Gaji dibalik kinerja buruk”. Dibalik semua itu gw bersyukur. Beliao, dalam mengisi masa pensiunnya memilih jadi babygrandfa-nya anak gw ketimbang keluyuran gak jelas. Alhamdulillah. Lagi-lagi semua ini masuk draf rencanaNya. Andai dulu waktu kehamilan pertama gw gak keguguran, pastinya anak –perempuan yang lebih dulu menghadapNy- itu ga ada yang jagain. Dan gw pasti makan gaji buta.

****

Yang mau ikutan challenge ini link-nya

 

Penulis:

Nyonya Fid Aksara | Emaknya Yusuf | Gawe FKM UHO | RockenRoll Mommy | Find me at : waode.raya@gmail.com

7 thoughts on “#Day 4 writing challenge

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s