Posted in artikel

Ayo, bayar utang puasa

komik-muslimah-390

AssalamuAlaykum preety reader.

Alhamdulillah ya kita masih diberi kesehatan dan keselamatan hingga tidak terasa bulan suci yang dinanti segenap umat Muslim di dunia akan segera mendekat. Bulan yang penuh dengan keberkahan dan keistimewaan.

Tiap liat iklannya Sirop Marjan dan BlueBand di tipi, dada ini jadi bergetar tak keruan. Getaran yang sama ketika –aaaah mulai curhat dagh– anu. Ketika ada cowok yang nembak saya menuju pelaminan. Asooooooy. Getaran tentang sebuah penantian 11 bulan. Yups, tentang rindu akan Bulan Ramadhan. Bulan istimewa. Karena kedua iklan tersebut menjadi sirine akan datangnya bulan Ramadhan.

Bulan ramadhan kemaren-kemaren saya cuek bebek. Datang ya datang ajah. Saya hanya mempersiapkan diri ketika bulan itu datang. Mempersiapkan diri menghadapi ujian demi ujian hingga hari kemenangan tiba. Selesai.

Beda dengan tahun ini. Tahun ini serasa saya sedang berlomba. Harus menjadi juara pertama sampai finish sebelum Bulan Ramadhan mendahului saya. Ingin saya cegah kedatangannya, hingga hati ini benar-benar siap. Sumpaaah saya gregetan. Grogian tak tentu arah.

13113026_968065716633824_7710853719658002667_o
Utang puasa Mama Cupyo😥

Looh kok utangnya bisa menggunung begitu?

  • 3 tahun lalu, tepatnya Ramadhan tahun 2013 saya menjalani kuretase. Ternyata saya sedang hamil kakaknya Cupyo tapi ga sadar diri sedang hamil semua aktifitas saya jalani. Minggu kedua puasa mulai kerasa capeknya. Dan, saya keguguran. Usia kandungan 2 bulan. Jadilah selama 3 minggu saya tidak diperbolehkan puasa. Karena badan saya yang drop. Hatipun ikut ngedrop karena trauma dan kesedihan mendalam. Kala itu saya lupa bayar fidya*. Saking mellow-nya karena kejadian tersebut.
  • Tahun 2014 saya sedang hamil besar. Hamil 8 bulan. Isinya Jabang Bayi yang fotonya sering kalian pandangi. Sebenarnya bisa puasa. Tapi saya khawatir dengan kondisi badan saya kalo tetap maksain puasa. Apalagi kehamilan saya dulu itu bisa dibilang saya “RAKUS” bangeeeet. Dikit-dikit makan. Untung meja gak ikut kemakan. Jadi mana tahan kalau harus puasa? Cuman 4 jam gak makan saja, kaki si jabang bayi sukses nendang-nendang perut emaknya supaya di isi lagi. Jadilaaaah emaknya bongsor banget waktu hamilin dia.
  • Tahun 2015 dengan PD –Percaya Diri– ga bakalan puasa karena lagi gencar-gencarnya memberi ASI. Tapi cuman seminggu gak puasanya. Karena Papahnya Cupyo maju tak gentar menyemangati saya untuk puasa. Kebayang dooong kalau utang puasa saya jadi 90 hari. Jadi pelan-pelan saya nyoba, eeeeh malah keterusan. Walo sedang puasa, entah bagaimana kerja tuhan hingga PD –P***D***– isinya full tangki. Alhamdulillah saya tertolong.

Kejadian tahun 2014 saya bayar fidya kok. Sebagai gantinya puasa. Pasca persalinan saya menghadiri majelis kecil kebetulan tema pembahasan tentang puasa ganti. Saya menceritakan keadaan yang saya lalui. Jadi aman dong yaaaa. Ga mesti ganti puasa. Jadi, puasa yang saya ganti hanya 30 hari saja. Karena kejadian 3 tahun lalu itu.

Ternyata jawabannya tidak begitu pemirsah, Kondisi fisik seorang wanita dalam menghadapi kehamilan dan saat-saat menyusui memang berbeda-beda. Namun, pada dasarnya, kalori yang dibutuhkan untuk memberi asupan bagi sang buah hati adalah sama, yaitu sekitar 2200-2300 kalori perhari untuk ibu hamil dan 2200-2600 kalori perhari untuk ibu menyusui.

Kondisi inilah yang menimbulkan konsekuensi yang berbeda bagi para ibu dalam menghadapi saat-saat puasa di bulan Ramadhan. Ada yang merasa tidak bermasalah dengan keadaan fisik dirinya dan sang bayi sehingga dapat menjalani puasa dengan tenang. Ada pula para ibu yang memiliki kondisi fisik yang lemah yang mengkhawatirkan keadaan dirinya jika harus terus berpuasa di bulan Ramadhan begitu pula para ibu yang memiliki buah hati yang lemah kondisi fisiknya dan masih sangat tergantung asupan makanannya dari sang ibu melalui air susu sang ibu.

Solusinya

  1. Untuk Ibu Hamil dan Menyusui yang Mengkhawatirkan Keadaan Dirinya Saja Bila Berpuasa

Bagi ibu, untuk keadaan ini maka wajib untuk mengqadha (tanpa fidyah) di hari yang lain ketika telah sanggup berpuasa. Keadaan ini disamakan dengan orang yang sedang sakit dan mengkhawatirkan keadaan dirinya. Sebagaimana dalam ayat,

“Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (Qs. Al Baqarah[2]:184)

Berkaitan dengan masalah ini, Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Kami tidak mengetahui ada perselisihan di antara ahli ilmu dalam masalah ini, karena keduanya seperti orang sakit yang takut akan kesehatan dirinya.” (al-Mughni: 4/394)

2. Untuk Ibu Hamil dan Menyusui yang Mengkhawatirkan Keadaan Dirinya dan Buah Hati Bila Berpuasa

Sebagaimana keadaan pertama, sang ibu dalam keadaan ini wajib mengqadha (saja) sebanyak hari-hari puasa yang ditinggalkan ketika sang ibu telah sanggup melaksanakannya.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Para sahabat kami (ulama Syafi’iyah) mengatakan, ‘Orang yang hamil dan menyusui, apabila keduanya khawatir dengan puasanya dapat membahayakan dirinya, maka dia berbuka dan mengqadha. Tidak ada fidyah karena dia seperti orang yang sakit dan semua ini tidak ada perselisihan (di antara Syafi’iyyah). Apabila orang yang hamil dan menyusui khawatir dengan puasanya akan membahayakan dirinya dan anaknya, maka sedemikian pula (hendaklah) dia berbuka dan mengqadha, tanpa ada perselisihan (di antara Syafi’iyyah).’” (al-Majmu’: 6/177, dinukil dari majalah Al Furqon)

3 .Untuk Ibu Hamil dan Menyusui yang Mengkhawatirkan Keadaan si Buah Hati saja

Dalam keadaan ini, sebenarnya sang ibu mampu untuk berpuasa. Oleh karena itulah, kekhawatiran bahwa jika sang ibu berpuasa akan membahayakan si buah hati bukan berdasarkan perkiraan yang lemah, namun telah ada dugaan kuat akan membahayakan atau telah terbukti berdasarkan percobaan bahwa puasa sang ibu akan membahayakan. Patokan lainnya bisa berdasarkan diagnosa dokter terpercaya – bahwa puasa bisa membahayakan anaknya seperti kurang akal atau sakit -. (Al Furqon, edisi 1 tahun 8)

Untuk kondisi ketiga ini, ulama berbeda pendapat tentang proses pembayaran puasa sang ibu. Berikut sedikit paparan tentang perbedaan pendapat tersebut.

Dalil ulama yang mewajibkan sang ibu untuk membayar qadha saja.

Dalil yang digunakan adalah sama sebagaimana kondisi pertama dan kedua, yakni sang wanita hamil atau menyusui ini disamakan statusnya sebagaimana orang sakit. Pendapat ini dipilih oleh Syaikh Bin Baz dan Syaikh As-Sa’di rahimahumallah

Dalil ulama yang mewajibkan sang Ibu untuk membayar fidyah saja.

Dalill yang digunakan adalah sama sebagaimana dalil para ulama yang mewajibkan qadha dan fidyah, yaitu perkataan Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, “Wanita hamil dan menyusui, jika takut terhadap anak-anaknya, maka mereka berbuka dan memberi makan seorang miskin.” ( HR. Abu Dawud)

dan perkataan Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhu ketika ditanya tentang seorang wanita hamil yang mengkhawatirkan anaknya, maka beliau berkata, “Berbuka dan gantinya memberi makan satu mud gandum setiap harinya kepada seorang miskin.” (al-Baihaqi dalamSunan dari jalan Imam Syafi’i, sanadnya shahih)

Dan ayat Al-Qur’an yang dijadikan dalil bahwa wanita hamil dan menyusui hanyaf membayar fidyah adalah, “Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar diyah (yaitu) membayar makan satu orang miskin.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 184)

Hal ini disebabkan wanita hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan anaknya dianggap sebagai orang yang tercakup dalam ayat ini.

Pendapat ini adalah termasuk pendapat yang dipilih Syaikh Salim dan Syaikh Ali Hasanhafidzahullah.

Dalil ulama yang mewajibkan sang Ibu untuk mengqadha dengan disertai membayar fidyah

Dalil sang ibu wajib mengqadha adalah sebagaimana dalil pada kondisi pertama dan kedua, yaitu wajibnya bagi orang yang tidak berpuasa untuk mengqadha di hari lain ketika telah memiliki kemampuan. Para ulama berpendapat tetap wajibnya mengqadha puasa ini karena tidak ada dalam syari’at yang menggugurkan qadha bagi orang yang mampu mengerjakannya.

Sedangkan dalil pembayaran fidyah adalah para ibu pada kondisi ketiga ini termasuk dalam keumuman ayat berikut,

“…Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin…” (Qs. Al-Baqarah [2]:184)

Hal ini juga dikuatkan oleh perkataan Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, “Wanita hamil dan menyusui, jika takut terhadap anak-anaknya, maka mereka berbuka dan memberi makan seorang miskin.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam Irwa’ul Ghalil). Begitu pula jawaban Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhu ketika ditanya tentang wanita hamil yang khawatir terhadap anaknya, beliau menjawab, “Hendaklah berbuka dan memberi makan seorang miskin setiap hari yang ditinggalkan.”

Adapun perkataan Ibnu Abbas dan Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhuma yang hanya menyatakan untuk berbuka tanpa menyebutkan wajib mengqadha karena hal tersebut (mengqadha) sudah lazim dilakukan ketika seseorang berbuka saat Ramadhan.

******

Jadi selama nyaris setahun pelan-pelan saya berlomba dengan bulan Ramadhan. Tapi sepertinya saya akan kalah. Ga akan sampai finish dan bakalan rapel hingga Ramadhan berakhir.

Justru karena kejadian ini saya jadi semakin merasa “MENCINTAI” bulan Suci Ramadhan. Bulan yang penuuuh dengan kuliner enak tiap berbuka puasahehehehe

Heeeeeeeeeei kalian yang masih kuat fisik, kalau ada utang segeralah di bayar. Utang sesama manusia aja bisa jadi dosa kalu gak diganti apalagi uatangnya sama Sang Pemilik Hidup. 11 bulan adalah waktu yang panjang yang Dia anugrahkan pada kita hambaNya untuk senantiasa membayar utang.

 

Penulis:

Nyonya Fid Aksara | Emaknya Yusuf | Gawe FKM UHO | RockenRoll Mommy | Find me at : waode.raya@gmail.com

21 thoughts on “Ayo, bayar utang puasa

  1. teman-teman di kantor yang sudah melahirkan kemarin juga bahas ini. bingung antara bayar qada atau fidyah aja. btw raya, kemarin kegugurannya ada ceritanya nggak di blog?

    1. Sebaiknya diganti ajah puasanya kalo sanggup,kak yan. Krn yg bayar fidya yg bener2 gak mampu puasa dalam kehidupan sehari-hari.

      Ga ada kak yan. Aku gak sanggup ceritain kalan itu😥

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s