Posted in Blablabla

Prasangka Baik

“BERPRASANGKA BAIKLAH PADA SEMUA ORANG. KARENA KITA TIDAK TAU KEDEPANNYA ORANG ITU SEPERTI APA” Rektor Universitas Halu Oleo Bapak Prof. Dr. Ir. H. Usman Rianse, MS pada pembukaan acara workshop di tempat kerja saya.

***

14138789061145001252

Kalimat bijak yang menggugah nurani saya. Secara tidak langsung beliau berpesan bahwa JANGAN SUKA PANDANG ENTENG (meremehkan bahasa nasionalnya) ORANG. Bisa jadi orang yang kita lihat sebelah mata itu menjadi atasan, kolega, ipar, besanan atau mungkin calon mantu. Tak ada gading yang tak retak, begitupula dengan manusia tak ada yang sempurna. Sedikit banyak pasti pernah ada yang bersuudzhon thingking kepada sesama manusia. Terlepas disengaja atau tidak disengaja. Lagipula tidak ada ruginya berprasangka baik.

Terlepas dari kata bijak beliau, kita juga mesti mawas diri. Banyaknya kriminalitas menjadikan kita pribadi dengan tingkat pengawasan tinggi tanpa mengabaikan unsur “prasangka baik” tadi. Kalau kata bang napi “Kejahatan bukan karena ada niat pelaku tapi karena adanya kesempatan. Waspadalah. Waspadalah”. Caranya? Berperilaku dengan tidak mengundang orang lain membahayakan diri kita dan perbanyak doa.

***

Ngomong-ngomong soal prasangka baik, saya punya cerita

*mulaaaaai curhat*

Disuatu ketika saya baru pulang kantor. Sekitaran jam 5 sore. Lagi nunggu angkot tetiba ada yang lari-lari –ala cinta ngejar rangga– dan melambaikan tangan slow motion ke arah saya. Cowok. Urakan. Gondrong kribow, pakeannya serba hitam lebih layak saya sebut dia mau nyopet ketimbang mau kenalan. Alih-alih mendekat saya kabuuuur sejauh-jauhnya hingga tak berbekas. Perasaan saya kacau. Takut mati sebelum membahagiakan orang tua-suami dan anak.

Beberapa bulan kemudian

Berkunjunglah saya ke kampoeng halaman. Bersilaturrahmi sama sanak saudara. Ketika nyampe di sebuah rumah yang saya yakini adalah rumah paman. Mulailah mengalir cerita bahwa ada anaknya –postif sepupu saya– kuliah di tempat kerja saya. Nyari-nyari sepupunya yang bernama ibu Raya tapi tak kunjung ketemu. Pas bertemu muka, bujuuuuuug ternyata tuh bocaaah yang pernah saya lariin pada perjumpaan pertama.

Kata si spupu, doi mau memastikan ciri fisik yang diberi dari kampoeng itu sesuai dengan fakta lapangan kalau saya adalah sepupunya. Olehnya doi antusiame ngejar saya dekat pangkalan ojek. Astutiiiii kalau tau dari awal sepupu saya, ya saya minta antar doooong pulang tanpa ngeluarin sewa angkots lagi! Plaks.

****

Dengan kejadian di atas saya jadi belajar melatih intuisi mengenal orang baik hati dan yang tidak baik hati. Heavy bangeeeeet. Karena biasanya penampilan tidak mencerminkan jati diri. Kadang berpakaian rapi ala pegawai bank mampir ke rumah mau menawarkan kartu kredit eh ternyata mailing yang mengintai rumah kita. Ada juga yang berpakaian ala preman yang lebih kelihatan mirip penculik mama muda ehhh ternyata orang baik. Don’t judge the book by the cover-lah ya kalau bahasa kerennya.

Apapun itu tanamkan dalam diri kita bahwa manusia sejatinya adalah makhluk sosial. Makhluk yang sudah pasti lebih bermartabat dibandingkan hewan dan sejenis palasik. Adapun kalau sekarang banyak tayangan di tivi yang memperlihatkan manusia menyerupai hewan atau sejenis palasik itu artinya tidak adanya “TUHAN” dalam dirinya. Bukankah tuhan sudah jelas mengatakan bahwa Dia tidak jauh dari kita. Sangat dekat. Amat sangat dekat.

****

Writting Day Challenge 9

Some Words of wisdom that’s speaks to me

my30daywritingchallenge

 

 

 

Penulis:

Nyonya Fid Aksara | Emaknya Yusuf | Gawe FKM UHO | RockenRoll Mommy | Find me at : waode.raya@gmail.com

4 thoughts on “Prasangka Baik

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s