Posted in Blablabla, Nanda Yusuf

Blitz A Holic Junior

Assalamu ‘Alaykum Reader..

Akhir-akhir ini pacar kecil saya lagi seneng sama yang namanya Gadget. Senang memandang dirinya dalam kamera depan dan siap memencet tombol tengahnya. Selfie. Setelahnya, doi akan memaksa saya untuk menampilkan hasil selfiean-nya. Kalau hasilnya jelek, doi manyun. Kalau hasilnya bagus, sejenis lesung pipi memaniskan senyumnya. Pertanda doi seneng dengan hasil karya kamera depan yang menampilkan wujudnya.

Kaget gak kaget sih, secara dari bayi doi memang sudah diperkenalkan dengan aktifitas selfie yang setelah saya searching hasilnya ga baik bangeeeet untuk tumbuh kembangnya. Anak akan lebih arogan, tidak peduli lingkungan sekitar, gila pujian. Oh no! Selfie bisa dan ga jadi masalah asalkan tidak mempengaruhi tumbuh kembangnya. Dan bagi saya itu MASALAH!

Yang saya perhatikan doi tuh kalau gak di ajak selfie bakalan ngamuk gak jelas. Misalnya kemaren. Perhatikan foto di bawah ini :

13419231_988495587924170_4055408625523484075_n

Kegaduhan terjadi ketika mengetahui emaknya selfie seorang diri,hahahaha. Anak bayiiiii menjelang balita gitu loooh? Horor banget-kan? Saya sih emang doyan selfie dan doyan jepret tentunya *pembelaan* apalagi kalau mau mereview produk. Yang jadi masalah, saya ga boleh foto seorang diri. Doi mesti-wajib ikut serta dalam aktifitas saya tersebut.

cats

Sampe saat ini pengamatan saya doi masih masuk kategori “ndakpapah” tapi lama kelamaan akan menjadi big trouble buat dia sendiri. Jangan sampai karena selfie menciptakan KETAMAKAN dalam dirinya *ketokketoktanah*.

PREVENTIF BETTER THAN CURE

Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Mumpung masih dini banget kepribadiannya masih bisa di atur. Kalau pendapat dari neneknya mendapati cucu mereka blitz a holic banget :

Ga papah, supaya dia ga gaptek

atau

Bakat artis emang begitu,nak. Santai saja yang penting ndak kebablasan.

Mengetahui dampak negatif dari gadget ke anak jelas saya menentang dong. Gegara keseringan kalau habis badai karena amukkan biasanya langsung disodori gadget dan tekan kamera jadi dia lihat gimana dia kalau mukanya marah atau lagi hepi. Seketika amukkan reda dan dunia aman terkendali. Jadinya saya amati pacar saya itu gimana siiih biar jiwa narsis-nya terabaikan.

Faktor Kebiasaan

Seperti yang katakan di atas, segala sesuatu menyangkut kepribadiannya tentunya karena kebiasaan yang dipupuk hingga akhirnya tumbuh subur dan baik sekali kembangnya. Membentuk kepribadian yang fotogenic. Disatu sisi siih, ih unyu banget deh pacar saya. Bisa di ajak selfi-an. Gak kagok depan kamera. Orang yang kepengen selfie sama doi bisa seenaknya narik-narik buat di ajak selfie. Kalau kebablasan mulai dari selfie-an jadi penculikkan,hiiiiy sereeem.

Kurang mainan

Kalau di -saya- nya sih doi jadi hobi selfie karena mainannya kurang. Fakta lapangannya, maenannya lebih sering nyungsep ke rumah tetangga karena dia sengaja jatohin ke rumah tetangga. Pacar saya lebih tertarik ke “sesuatu yang heboh” seperti iklan, nyanyian, suara adzan. Pokoknya sesuatu yang berirama yang mbikin dia jadi berpaling meninggalkan gadget untuk selfie.

Robot-robot? lewaaaat. Mobil-mobilan? cuman dibongkar doang. Doi lebih memilih tutup panci atau koleksi tupperware neneknya yang dijadiin mainan ketimbang di sodorin mobil-mobilan.

Maunya main sepeda di luar atau mobil-mobilan yang harganya JUTAAN. Ketebak dong? iya mobil remote control! Pliiis deeeh. Maen ke taman kota ajah napa? murah meriah,hahahaha.

TalkActive

Berhubung pengasuhan (kalau emak + babehnya ke Kantor) jatuh pada kakeknya, jadi pola perilaku pacar saya gak jauh-jauh dari kakeknya. yaitu?

  • Doyan nyanyi. Yuhuuuuu, kakeknya vokalis gagal. Jadi jiwa rockernya nurun ke cucunya

Untuk mengalihkan doyan selfie-nya pacar saya ini harus selalu di ajak ngomong. Salah satu caranya duet nyanyi sama doi. Berhubung kakeknya itu sudah “umur”an jadi kalau banyak cakap rasanya cepat lelah. Energinya terserap. Olehnya metode duet bareng lebih baik.

jadi ketika melihat cucunya akan segera mengamuk, mulai-lah mukul-mukul tutup panci dan mengalir-lah lagu-lagu perjuangan patriotisme bela tanah air. Efek negatifnya ketika kakeknya berhenti, amukkan kembali terjadi.

Jelong-Jelong

Alternatif lain ngajakkin doi keliling kompleks. 12400972_884422761664787_1517960601289610484_n

Gak peduli hujan badai sekalipu,ckckckck. Bersyukurlah nak, masih ada kakek yang badannya sekuat rambo. Doain kakek panjang umur dan sehat slalu yaaa.

BerGaul

Nah ini yang urgent sih kalau saya lihat. Berhubung di rumah semuanya udah pada gede-gede dan ga ada seusianya jadi wajar siih kalau doi menuntu kami –yang dewasa– nurutin hasrat bermainnya. Ngajakin ngoceh, duet nyanyi dan semua dunia anak-anaknya. Kalau doi bergaul, dijamin deeeh lupa tuh yang namanya gadget dan aktifitas selfie. Maen dari pagi sampe ketemu pagi lagi pasti doi sanggupi. Cucunya Rambo gitu loooh ..

Akankah Doi saya titipin ke PAUD untuk mengasah jiwa “manusia sosial” nya?

Ada yang punya saran lain?

 

Penulis:

Nyonya Fid Aksara | Emaknya Yusuf | Gawe FKM UHO | RockenRoll Mommy | Find me at : waode.raya@gmail.com

18 thoughts on “Blitz A Holic Junior

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s