cerpen · FF

[Cerpen] Cinta Pertama bukan Cinta Terakhirku

Dia memang cinta pertamaku

Tapi bukan cinta terakhirku

—————————————–

Peluh membasahi tubuh hingga kelihatan seperti baru habis mandi siang. Kala itu pelajaran Penjaskes diakhiri dengan lomba lari. Pemenang pertama otomatis dibebaskan dari yang namanya Ujian Caturwulan.  Sayangnya, namaku tidak masuk dalam daftar murid beruntung yang bebas dari ujian Caturwulan.

Raya ke kantin yuuuuk” ajak sahabat sekaligus teman dudukku di Kelas 1.4 SMAN 4 Kendari.  “Hauuuuuus” sembari menjulurkan lidahnya tak tahan dengan musim kemarau yang menyebabkannya dehidrasi.

Aku hanya memesan air gelas kemasan bertuliskan Flow. Enggan makan makanan kantin yang jelas akan melukai hati ibuku jika ketahuan melakukannya. Bukan karena ibuku yang pembersihnya hanya Tuhan yang tau, melainkan waktunya nyaris tersita hanya untuk membuatkanku bekal ke Sekolah.

Sembari menemani Indri menuntaskan hasrat haus dan laparnya, mataku terpaku pada lapangan tempat kami berlomba lari. Kini tergantikan oleh kelas tetangga dimana siswanya asyik bermain bola. Sorakan para siswi seakan-akan mereka adalah Tim Juventus yang melegenda. Akupun ikut bersorak riang ketika seorang siswa –entah siapa namanya- berhasil memasukkan bola ke gawang. Ia lari keliling lapangan dengan melambaikan tangan ke atas tanda berhasil menjadi siswa yang beruntung tidak mengikuti ujian Penjaskes. Melambaikan tangan ke arahku dan tersenyum. Damn! I got a funny feeling.

****

Tubuhku terhimpit oleh beberapa siswa yang penasaran dengan kenaikan kelas. Kami sedang khusyuk menatap papan pengumuman di dekat ruang kepala sekolah. Tak tahan dengan himpitan, aku membebaskan diri. Teriakan heboh, saling tos, berpelukan tak lepas dari pemandangan ini. Wajah mereka diliputi kebahagiaan tatkala mengetahui di kelas berikutnya mereka masih bersama. Enaknya.

Namaku ada di kelas 2a. Yang kuketahui kelas 2A adalah kumpulan siswa-siswi teladan dari kelas sebelumnya. Aku menelusuri nama-nama penghuninya. Nama yang selalu membuat lututku bergetar –ketika berjumpa atau berpapasan dengannya- sejak kejadian di lapangan bola juga ada. Oh My God!. Otakku sedang mencari ide agar bisa menarik diri dari kelas tersebut. Kurasa Tuhan sedang memihak kepadaku begitu melihat nama wali kelasnya adalah nama ibuku.

mam.. plis deeeh, Raya ga mau di kelas 2a” bukti salah satu kinerja otakku.

kelas 2a bagus loh Ray, kamu bisa bersaing sehat disana. Kalau kamu bergaul sama pembuat minyak wangi, yakinlah kamu jg kecipratan wanginya

apanya yang wangi,mam? kalau misalnya nih yaaa, Raya jadi juara kelas. Emang mama ga dituding sebagai pengkatrol nilai gitu?” serangku. “mentang-mentang anak wali kelas, jadinya juara kelas” lanjutku memprovokasi pikiran ibuku.

Betul juga sih. Tapi kenapa kamu ngotot sekali mau keluar dari kelas 2a?

Karena mama wali kelasnya. Raya ga suka kalau misalnya ya ma, missal Raya berprestasi lalu disangkut pautkan dengan mama. ga etis mam. Raya juga jadi ga bisa berkembang” Lanjutku memprovokasi.

Okelah, mama coba diskusikan sama wakil kepala sekolah

Jangan pakai kata ‘coba’ dong mam. Harus yakin! Demi kebaikan kita bersama

***

Kembali aku mendatangi papan pengumuman untuk melihat kelasku. Cihuuuuy. Aku ditempatkan di kelas yang berdasarkan cerita turun temurun dari senior bahwa 2.4 adalah kelas angker. Bukan angker karena hantu sekolah melainkan karena murid yang menempati kelas tersebut. Astaga…

Jarak antara 2a dan 2.4 sangatlah dekat. Ibarat lubang hidung yang kanan dan yang kiri. Setiap kali 2a keluar main dan ke kantin, tentunya akan melewati kelasku. Apalagi jendela kelasku telanjang bulat, dalam artian tidak bergorden. Juga transparan. Tempat dudukku sangat strategis karena tepat di depan pintu masuk dan bersebelahan dengan jendela besar tanpa gorden. Sempurna!

Berkali-kali terjadi adegan tatap-tatapan malu-malu kucing dengan sang striker legendaris di lapangan bola yang bernama MUHAMMAD RAJA SAPUTRA tentunya ketika ia melewati kelasku hendak ke kantin atau –mungkin saja- sengaja bolak-balik dari kelasnya ke kantin. Entahlah. I got a funny feeling.

***

“cieee… Raja barusan lewat tuh. Matanya fokus ngeliatin kamu” kata Indri sahabatku semenjak kelas 1 dan bertakdir untuk menempati kelas 2 bersama. Sebangku pula. Jadilah Indri adalah saksi hidup bagaimana gemetarannya lututku ketika berpapasan dengan Raja. Aku bergeming. Pura-pura memperhatikan penjelasan Pak Guru Ekonomi tentang inflasi di papan tulis. Jangankan untuk melihat mata Raja, bayangannya pun sudah kuhapal kalau lewat di sampingku. Setelah Pak Guru mempersilahkan kami mengerjakan soal latihan di buku cetak, barulah tubuhku menghadap ke Indri.

Seriuuuus? aaaaakh.. happy..happy..happy” balasku dalam bahasan bisikan. Bukan tidak mungkin kalau teman di bangku belakang mengetahui tentang sisi hatiku yang sedang puber dan mengetahui cowok taksiranku adalah mantan teman SMPnya dan meledaklah gossip murahan seorang cewek berjilbab naksir cowok anggota OSIS. Oh No!

“sampai kapan kalian gini terus,Raya? tatap-tatapan tanpa suara. Raja jelas naksir kamu juga! Ngapain coba dia bela-belain masuk Rohis kalau cewek taksirannya bukan anak Rohis? Ngapain dia main bola di depan kelas kita padahal lapangan bola tempatnya di seberang sana? ngapain? ngapain? Kalau bukan menarik perhatian kamu?” pekik Indri sambil pura-pura mengerjakan soal dampak Inflasi terhadap perekonomian Negara.

Aku memolototi Indri. memberi isyarat agar tidak usah membuka mulut perihal apa yang dirasakan Raja menurut kacamatanya. Bisa saja ada cewek lain yang juga dari kelasku yang ditaksir olehnya. “Apapun alasannya Ndri, pacaran tidak ada dalam kamusku. Lagi pula kita gak tau gimana perasaan Raja kan? Bisa jadi dia hanya flirting ajah.”.

Oke, saya akan cari tau tentang perasaan Raja ke kamu” Tantang Indri. Kemudian Indri di tunjuk oleh Pak Arman untuk mengerjakan soal Inflasi yang tadi diperintahkan di papan tulis. “Siap pak!” sambil mengedipkan mata nakalnya padaku dan berlalu menuju papan tulis. Dasar sableng!

****

Hubunganku dengan Raja biasa saja. Bahkan sangat biasa.

pertama : Karena memang kami tidak saling mengenal. Raja mengenalku hanya karena aku anak dari wali kelasnya.

kedua : aku bersikukuh untuk tidak menampakkan perasaanku kepada Raja. Apapun alasannya.

Ketiga : aku berpikir hellow ini hanya di SMA, apakah setelah lulus kami akan terus bersama?

Keempat : dia anak yang periang dan memiliki banyak teman. Mustahil kalau dia naksir seorang cewek yang amat-sangat-biasa baik ditinjau dari wajah ataupun fashion! Sedangkan diluar sana puluhan cewek bisa jatuh ke hatinya.

Walau bagaimanapun juga hatiku yang penuh kemunafikan menampik fakta-fakta yang kubeberkan di atas sejak melihat feedback yang dilakukan Raja. Ataukah hanya rasa GRku?

Raya” teriak temanku yang berasal dari kelas yang sama dengan Raja.

Hei” sapakaku basa basi

Ada temenku nitip salam

Siapa?

Ada deeeeh” kemudian berlari menuju kelasnya.

waalaykum salam” berharap dalam hati Raja yang dimaksud temannya itu.

***

Awan hitam memenuhi langit tempatku berpijak. Seakan kompakkan dengan hatiku yang mendung pula. Seharusnya hatiku pelangi, memiliki banyak warna yang cerah dan terang, sehingga siapapun yang melihatnya akan terpukau. Karena Raja sekelas denganku lagi pada kelas 3a. Kenyataan yang kuingkari sepenuh hati.

Sukses menyabet juara 1 pada kelas 2.4 aku bernazar kepada Allah sang pemilik hidup, bahwa akan kuhentikan segala tebar pesonaku pada Raja. Tebar pesona bukan hanya dilakukan secara terang-terangan. Justru tebar pesona secara tersembunyi jauh lebih berbahaya. Aku menggunakan jurus “jinak-jinak merpati”. Kadang aku merasa geli, jinak-jinak merpati? bahkan aku tak punya nyali untuk berkomunikasi dengannya walau peluangnya terbuka luas.

Untuk mengalihkan rasa “naksir”ku pada Raja, segala bentuk bimbingan belajar kuikuti. Baik privat di rumah maupun di sekolah. Kuusahakan agar pikiranku fokus untuk lulus Ujian Nasional. Bukannya fokus mendapatkan hati Raja.

Maaaaam raya ga mau masuk kelas 3a. Angker banget iiih. No.no.no

Kamu ini gimana sih ray? kelas 3a itu peluang besar loh kalau kamu mau bebas tes di ITB” kata ibuku sembari melihat nilai raportku. “pasti kamu lebih giat belajar”.

Raya,kan les kimia di rumah Bu Angela. Alangkah lebih bagusnya jika bu Angela yang jadi wali kelas Raya. Karena beliau tau titik kelemahan Raya dalam menganalisa soal,ma”. Mengetahui wali kelas kelas 3 IPA a adalah bu Angela alias guru privat kimiaku alias sahabat kental ibuku seakan besar peluang aku dijebloskan dalam perwaliannya.

Ibu Angela sampai bingung melihat tingkah konyolku yang menulis absensi manual dengan menggunakan pulpen. Belum lagi ada teman yang cemburu mengapa aku dengan mudahnya masuk kelas Ipa 3 sementara kita sama-sama sekelas di kelas 3 Ipa a, sehingga namaku dia coret, mentipexnya dan menuliskan namanya.

Begitu terus selama 3 hari. Hingga akhirnya bagian administrasi akan mengumumkan kepada para siswa-siswi revisi kelas terbaru. Oh jangan salah, walaupun ada koneksi di dalamnya karena ibuku salah satu guru senior di SMAN 4 Kendari, tetap saja revisi ini tidak bisa diganggu gugat.  Thanks god, namaku ada di kelas 3 IPA 3. Berkat wali kelas Ibu Angela yang berjuang ke bagian administrasi agar namaku masuk dalam perwaliannya.

****

Sial pangkat sejuta, kami memang resmi bercerai kelas sejak keinginanku terkabul, namun kelas 3 IPA a seatap dengan kelasku. Karena banyak teman Raja dari kelas sebelumnya sekelas denganku, jadi dengan entengnya dia keluar-masuk kayak kambing tanpa permisi.

Ada yang punya kamus Indonesia-English Hasan Sadikin?” siang itu Raja memasuki kelasku dan berteriak tepat di belakangku. Apa yang kulakukan? Aku pura-pura sibuk membaca buku Biologi bab bagian anatomi fisiologi pria. Buku yang sama sekali tidak menarik minatku. Melihat bayangan Raja memasuki kelas, tanganku dengan lincahnya menarik buku biologi yang kebetulan bab yang terbuka adalah anatomi tubuh pria. Coba bayangkan bagaimana wajahku merah merona karena salah tingkah?

Hidungku mengendus aroma tubuh Raja. “Raya, pinjam kamus Indonesia-Englishnya dong” deg.. jantungku seolah berhenti berdetak. Aku menutup buku Biologi dan membalikkan tubuh agar terlihat sopan menatap mata lawan bicaraku yang menawan hati.

Saya juga mau pakai” jawabku beku

bentaran ajah ray, 1 jam saja

mau 1 jam kek, 1 hari 1 malam kek, sekali tidak tetap tidak” lanjutku memasang tampang jutek.

****

Suara cempreng kelas sebelah memecahkan keheningan kelas kami. Sebagian berlari keluar melihat keributan yang mereka ciptakan. “terima. teriiiiima. teriiimaaa”. Rupanya ada kegiatan katakan cinta di kelas sebelah. Semenit setelahnya kembali suara soarakan membahana hingga ke kelas 3 IPA 6.

Raja masuk ke kelasku entah untuk bertemu siapa. Tenang, tanganku tidak nakal untuk membuka buku Biologi bagian anatomi tubuh pria, karena sedang menyantap tahu isi buatan salah satu teman kelasku, Eka.  “ciiiiieeeeeh Raja jadian sama Anis”. Dan dadaku seperti tonjok. Aku patah hati.

****

2014 On Facebook

1458681_559737914133275_484098970_n

Indri : Wooooooi lo itu sudah bersuami. Ngapain ngupload foto mantan cidaha di sosmed? Sakit jiwa!

Saya : Itu foto suami gw kali bareng teman kelasnya.

Indri : Whaaaaaaaat? Gw pikir lo ngupload foto RAJA! Hahahahaha

Saya : Raja memang cidaha gw, tapi papah Ucup teman hidup gw.

Indri : Allah Maha Romantis,Ray.

Saya : Iya Ndriii.. Raja? CASE CLOSED!

****

my30daywritingchallenge

Writting Day Challenge 19.

Iklan

9 tanggapan untuk “[Cerpen] Cinta Pertama bukan Cinta Terakhirku

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s