novel · Review

[Review] Disonansi

“Karena sudah nggak zamannya lagi lari kenyataan,Jan. Kita harus lari menuju kenyataan. Kenyataan bahwa kita memiliki kewajiban untuk merawat tubuh sebagai wujud syukur atas kesehatan yang diberikan Tuhan” (hal 27).

112

Penulis : Edith PS
ISBN : 978-602-03-1779-3
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Editor : Irna Permanasari
Tebal Buku : 248 halaman

Rinjani sudah terlalu lelah dengan kedukaan atas meninggalnya suaminya tercinta. Ratapan setahun terakhir seiolah tidak pernah cukup. Sampai ia harus berurusan dengan surat-surat tanpa identitas yang muncul mengusik ketentramannya, menimbulkan berbagai tanya dan prasangka atas mendiang suaminya.

Lalu saat mulai terpojok dan bingung harus kemana, ia berkenalan dengan olahraga lari jarak jauh yang membawanya ke Bromo Marathon, tempat semuanya -secara tak tertuga- akan terjawab dan ia seharusnya tidak perlu “lari” lagi.

***

Novel ini mengangkat tema tentang lari. Bagaimana “lari” diartikan bisa saja me”lari”kan diri dari hal-hal yang membuat kita tidak nyaman dengan satu kondisi tertentu atau bisa jadi ber”lari” menuju ke kondisi yang membuat kita tidak nyaman tersebut untuk diselesaikan hingga membuat nyaman. Banyak kutipan menarik tentang lari disini. Bermakna mengajak pembaca ikut lari menyongsong perubahan yang terjadi dalam keseharian kita.

Gw suuukak banget sama kisah novel ini, bercerita tentang perempuan yang ditinggal pergi suaminya untuk selamanya. Ditinggalkan oleh suami yang notabenenya seorang pria yang sukses mengambil seluruh dunianya. Hingga untuk bangkit/move on dari kedukaan tersebut terasa berat.

Ada yang bilang bagian terburuk dari kehilangan sesuatu atau seseoran bukanlah kehilangan atas sesuatu atau seseorang itu, melainkan kehilangan bagian dari diri kita, lantaran ikut terbawa pergi” (hal 13).

Ketika proses menuju move on, ia kembali dihadapkan dengan surat kaleng misterius tentang suaminya. Seseorang –yang tanpa sepengetahuannya– yang sangat mencintai suaminya. Alur ceritanya sederhana bahkan sangat dekat dengan kehidupan pembaca.

Tentang memaknai sebuah rasa kehilangan dan mau tak mau life must go on gitu loh. Secara dunia tetap berputar, matahari tetap terbit, tetap ada pergeseran rotasi bumi  dan lo cuman meratapi takdir Allah? Please wake up,Jani!

Abbas, rekan kerjanya mengajak Rinjani keluar dari kubangan kesedihan yang selama ini membelenggunya. Sahabatnya itu mengajaknya olahraga “Lari” yang awalnya ditanggapi ogah-ogahan oleh Jani namun membuat tokoh utama menyadari bahwa dengan lari dapat memperlancar hormon kebahagiaan, bisa membuat kita lebih bijak dan tenang menghadapi stressor. Lari semacam terapi baginya.

Novel ini menyuguhkan kisah tidak selamanya loooh persahabatan laki dan perempuan itu ada kasmarannya,xixixixi 😀

Saat mengikuti kegiatan barunya itu, ia berkenalan dengan Okto. Oktober Banyu. Koordinator Indorun tempat Rinjani berusaha lari menuju kenyataan. Lekaki keren yang memiliki toko alat perlengkapan lari yang juga seorang penulis cerita fiksi. Mereka dekat, namun karena ada surat kaleng yang belakangan diterimanya membuatnya goyah untuk melabuhkan hatinya pada cinta kedua.

Hingga ia menerima tawaran Okto dan Abbas untuk mengikuti lomba jarak jauh “BROMO MARATHON”. Mampukah ia menaklukannya? Paling tidak menaklukan dirinya sendiri. Karena lari secara memiliki karakter kuat yan terpatrit dalam diri kita yang menawarkan tantangan berbeda : lawan terberatmu adalah dirimu sendiri.

****

Untuk karakter tokoh dalam novel ini semua memiliki keunikkan. Rinjani dengan segala ketegarannya. Okto yang misterius sekaligus serius bin manis. Abbas yang kritikus maha bawel, laki-laki dengan segala atribut kebawelannya. Tata yang senantiasa memompa semangat Rinjani dan tentunya sosok misterius si pengirim surat kaleng. Semua menyatu ibarat gado-gado.

****

Well, akhirnya gw nemu novel yang sesuai dengan apa yang- ingin mata dan otak gw berkolaborasi dalam memaknai sebuah kisah secara tulisan– selama ini gw cari. Dimana penulisnya mampu menarasikan secara blak-blakan alur cerita tanpa menyuguhkan banyak dialog yang membuat isi novel basi untuk dibaca. Bagi gw (yang sudah addict dengan gaya bercerita Dewie Sekar-Ifa Avianty-Dee Lestari), kekuatan sebuah cerita tidak hanya terletak pada dialognya saja, melainkan bagaimana isi dari cerita tersebut mampu dijabarkan dengan baik. Sehingga memberi asupan nutrisi pengetahuan bagi pembaca memahami alur cerita.

Karena gaya penulisnya yang keren hingga membawa gw menamatkan kisah dalam novel ini dan feels gw gitu looh yang lari ikut event BROMO MARATHON dengan hadiah anak kedua dari pak suami! wkwkwkwkwk. Selain itu penulisnya cerdas, dengan melibatkan beberapa ilmu baru yang disertai dengan riset berupa pengumpulan fakta yang mbikin kita ber “oooh oooh dan oooh”, yang tertera pada halaman 118.

Namun ada 2 hal yang mengganggu kekhusyukkan gw saat membaca :

  1. Pada akhir-akhir cerita, ada beberapa bagian yang terlewatkan oleh penulis untuk diberi tanda atau simbol. Contohnya pada halaman 215 pararaf ketiga menuju empat.20170514_100623

Pada halaman 233 – 234. 20170514_100659

Itu yang sempat gw perhatikan dengan seksama. 20170514_100714

Lagi seru baca perjuangan Rinjani menempuh Bromo Marathon, tiba-tiba flash back ke masa lalunya tanpa diberi tanda gt maksudnya. Lebih jelas berikut maksud gw.

2. Surat misterius yang diterima Rinjani. Yang gw lihat gaya bertuturnya sama kayak Rinjani nulis surat ke dirinya sendiri. Menurut gw, seharusnya gaya tuturnya beda dengan gaya tutur tokoh utama.

***

Banyak quotable tentang lari yang memberi spirit untuk senantiasa berpikiran positif.

“Berhenti berhitung, berhenti menggerutu, berhenti selalu mencemaskan ketidakpastian, dan berhenti menoleh ke belakang. Karena aku punya tujuan akhir yang terlalu menggiurkan untuk menghentikan langkahku sekarang, tidak peduli seberapa jauh dan tidak pastinya apa yang akan kuhadapi di depan”

Dan ini quote favorit gw

“Kita tidak pernah tahu sampai kapan kita akan hidup, apakah besok masih hidup,a ataukah rencana akan berjalan mulus sesuai harapan. Tapi toh ketidakpastian itu membuat hidup menggairahkan. Keteguhan untuk terus berharap dan berencana dii tengah ketidakpastian tidak akan menjadikan semua asa dan upaya sia-sia. Karena aku tau pasti, semesta sudah punya perhitungan sendiri. Tuhan punya matematikaNYA sendiri. Dan segala upaya tidak pernah membelakangii keberhasilan”

***

Sebagai penutup, pesan moral yang sangat berati dari novel ini adalah keyakinan bahwa Tuhan sama sekali tidak memberi hambaNya cobaan, melebihi dari kekuatan hambaNya tersebut. Bersedih hati boleh saja, namun tidak meratapinya hingga jauh dan menutup benteng pertahanan hati yang akan menjauhkan jodoh kita.

Well Edithya Permata Sari, good job untuk novelnya. 4 thumbs up dari gw yang sepertinya akan memasukkan nama anda dalam list penulis favorite.

4-stars

Disonansi dalam Teori Disonansi Kognitif adalah perasaan tidak nyaman yang memotifasi orang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan itu.

 

 

 

 

 

 

Iklan

3 tanggapan untuk “[Review] Disonansi

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s