Writting Day Challenge

Stop memelihara Budaya Konsumtif!

Presentation1

Zaman saya menjadi anak kuliahran yang idealis dalam mengedepankan prinsip keadilan demi terciptanya masyakarat makmur sentosa, saya sering diajak babeh (kakeknya Ucup) menyelami tulisan para ilmuan Indonesia tahun 80-an mengenai ramalan mereka pada tahun 2000an. Kurang lebih isinya menjelaskan tentang masyarakat Indonesia yang merupakan masyarakat agraris tradisional yang penuh nuansa spiritualistik menuju masyarakat industri modern yang matrealisitik kaitannya terhadap era globalisasi. Buku yang berjudul “Tantangan Tahun 2000. Selamat atau Bunuh Diri?”.

Kini ramalan tersebut benar adanya. Bahwa Globalisasi sudah berperan cukup aktif dan telah banyak merubah sikap, perilaku, dan pola berfikir masyarakat dunia. Termasuk mengubah masyarakat Indonesia sebagai masyarakat transisional. Namun apakah kita ikut terseret arus Globalisasi?

****

Berbicara mengenai budaya komsumtif jelas memiliki aspek yang luas dan beragam yang dipengaruhi oleh gaya hidup. Ada yang yang konsumtif jalur gedget, makanan, fashion, properti, make up, otomotif, elektronik, skin care dan masih banyak lagi. Sepertinya tuntutan zaman yang maju sesuai dengan visi misi era Globalisasi yaitu memudahkan aktifitas manusia menjadi gerbang hedoisme masyarakat Indonesia yang ingin disebut kekinian.

Disadari atau tidak, budaya konsumtif memberikan kenikmatan dan kepuasan secara fisik dan pesikologis. Karena asumsi publik saat ini, jika orang tidak mengikuti trend dianggap katrok. Kampungan! Ndeso! Budaya konsumtif dapat dikatakan sebagai pemborosan. Sementara pemborosan itu sendiri bisa dimaknai sebagai suatu perilaku yang berlebih-lebihan melampaui apa yang dibutuhkan.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. [al-Mâ`idah/5:77] (sumber : link)

****

Secara umum, konsumtif didefinisikan sebagai konsumsi yang tidak rasional berdasarkan kebutuhan tetapi medewakan keinginan dalam mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang dibutuhkan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan maksimal. Gengsi salah satu pendorong perilaku konsumtif yang mengakar pada masyarakat umumnya hingga membentuk stigma lebih besar pasak daripada tiang. 

Budaya konsumtif sudah mewabah

Wabahnya sangat mencemaskan karena terkait dengan persoalan etika dan rapuhnya karakter anak bangsa. Disadari atau tidak, budaya ini terbuka luas menyetir pola pikir, gaya hidup, selera dengan nilai yang melekat pada barang. Terlebih pilihan jatuh pada barang import. Jelaslah mempengaruhi ekonomi bangsa.

Oke find jika si pelaku konsumtif ini punya uang. Sekali lagi U-A-N-G! Karena ketika kita memiliki daya beli, gaya hidup konsumtif mengasyikkan. Yakin! Sueeer! Kita bisa membeli segala hal yang kita inginkan. Sebodo amat deh dengan pandangan orang lain.

Namun bagaimana dengan si pelaku konsumtif yang memiliki uang minimalis dan ingin menerapkan budaya konsumtif dalam hidupnya? Menebus rasa ingin diakui membuka gerbang masalah lain dengan cara berutang misalnya.  Sekalinya terjerumus, tidak mudah terhindar dari pola hidup konsumtif. Perlu disadari bahwa pola konsumtif sangat merugikan.

Penyebab budaya konsumtif

Sependek pengetahuan saya berdasarkan pengalaman hidup, ada beberapa hal yang mempengaruhi kita menjadikan pola hidup konsumtif sebagai budaya. Diantaranya adalah :

  • Lingkungan

Percaya gak sih kalau lingkungan berperan besar terhadap diri kita? Dalam ilmu sosiologi, lingkungan salah satu faktor yang mempengaruhi pembentukan dan perkembangan perilaku individu, baik lingkungan fisik maupun sosio-psikologis. Lingkungan juga terkadang sering disebut patokan utama pembentukan prilaku.

Jadi kalau misalnya lingkungan pergaulan kita tuh isinya penganut budaya konsumtif, yakinlah sedikit (banyak) kita akan terkontaminasi juga. Kecuali kalau kita memegang teguh prinsip tidak menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan sesaat.

  • Media

Contohnya iklan-iklan yang memanjakkan mata. Hakikat sebuah iklan adalah memberi sugesti kepada penonton kalau produk mereka adalah yang terbaik. Cara mendapatkannya pun segampang nendang pintu disaat marah. Ga mesti hujan-hujanan becek, ga ada ojek untuk mendapatkannya. Duduk manis ajah say-dinego ajah say-pasti bisa say-dinego sampai oke 😀.

Selain iklan, pengaruh drama Korea pun menjadikan sebagian besar masyarakat Indonesia berjenis kelamin wanita tergila-gila dengan fashion ala artis korea. Baju rumbai-rumbai lah, celana kulot lah, baju couple lah apalah apalah bahkan menjadikan Korea sebagai kiblat trand fashion kekinian. *curhat blaas*

IMG_20170129_100945_329

Ditambah dengan maraknya toko online yang merajai media sosial seperti instagram, facebook, twitter dengan harga terjangkau makin memupuk antusiasme wanita Indonesia memuaskan hasrat belanjanya tanpa mempedulikan apakah termasuk kategori “butuh” atau hanya “ingin”.

Baca juga : Belanja Online, Memangkas Ruang dan Waktu

  • Gengsi

Merupakan wujud dari eksistensi sosial yang membutuhkan pengakuan.

  • Besarnya beban hidup

Terkadang karena beban hidup kita memilih mengalihkan ke hal yang bersifat duniawi. Contohnya nongkrong di mall, cafe, bioskop dan lain sebagainya. Karena besarnya beban hidup kerap menimbulkan kepenatan di otak.

Jika sudah terbiasa menjadi perilaku konsumtif, masih bisakah di ubah?

Selama ada niat untuk berubah, pastinya akan ada 1001 cara untuk meninggalkan budaya konsumtif yang bisa mendatangkan kemudharatan. Bukankah segala amal perbuatan kita tergantung dari niat? 😉

Jangan biarkan STEL (Selera Tinggi Ekonomi Lemah) menguasai anda. Ingin terlihat seperti sosialita padahal aslinya melarat. Anda dong yang menguasai diri anda sendiri. Dan jangan sampai gaya hidup konsumtif yang membudaya dalam diri anda mendatangkan keBUNTUNGan dalam hidup anda. Setidaknya tips berikut ini semoga menjauhkan anda dari keBUNTUNGan :

-> Menabung

Tidak ada ruginya menabung. Justru menabung membuat kita untung dan penggunaannya bisa jangka panjang. Untuk penganut hedoisme, biasanya menabung adalah hal yang sulit dilakukan. Mantapkan niat. Kalau terus-terusan mendewakan budaya konsumtif mana bisa kaya?

-> Prioritaskan Kebutuhan

Perjelas kelasnya kebutuhan dan keinginan. Terkadang kalau melihat barang A pengen banget langsung dibeli, padahal hanya sekedar keinginan untuk dimiliki. Tentukan hati bahwa KEBUTUHAN LEBIH PENTING KETIMBANG KEINGINAN.

-> Kurangi Cuci Mata di Mall

Entah mengapa mall sangat di idolai hanya untuk sekedar refreshing, mencoba hidup buruk dengan menenggak junk food atau cuci mata. Apalagi sekarang momentnya pas bangeeeet, mendekati lebaran segala rupa diskon-diskon bertebaran disegala penjuru mol. Cuci mata di mall berpotensi menimbulkan niat belanja yang tidak terduga dan terencana.

-> Investasi Akhirat

Yakinlah dunia ini hanyalah persinggahan semata. Memang ada anjuran bahwa “bekerjalah seolah-olah kau hidup selamanya dan beribadahlah untuk akhiratmu seolah-olah kau mati besok”. Jika budaya konsumtif erat kaitannya dengan pemborosan, kembalilah ke jalan yang lurus,nak. Investasikanlah hartamu untuk tabungan akhiratmu dengan bersedekah.

Rasulullah bersabda: ” Bila engkau membayar zakat kekayaan maka berarti engkau telah membuang yang tidak baik darinya”. (H.R. Hakiem)

Allah sudah mengatur sedemikian baiknya rejeki hambaNya. Lagian kalau kita memberi kepada mereka yang membutuhkan Allah sudah berjanji akan diberi keberkahan pada harta, dilipatgandakan pahala pastinya, akan mendapatkan naungan di hari akhir, dibebaskan dari siksa kubur, merasakan kebahagiaan, dan masih banyak lagi.

Terapkanlah hidup positif dan jangan biarkan diri kita menjadi manusia konsumtif.

Saat hujan luruh membasahi bumi Kendari
-Raya Makyus-

tumblr_inline_o2scz9LzSh1sblp91_1280

Diikut sertakan dalam program 1 Minggu 1 Cerita untuk membangkitkan gairah literasi yang hobi ngedown 😀

 

 

 

Iklan

9 tanggapan untuk “Stop memelihara Budaya Konsumtif!

  1. Baru tahu ada istilah STEL hehe. Saya sepakat dengan tulisannya mbak…

    Ibarat sebuah sungai, jika ada arus saya tdk kemudian hanyut terbawa arus atau kemudian malah melawan arus. Tapi ingin diatasnya, melihat dg menyeluruh ttg apa yg terjadi. Intinya atau tepi-tepinya…

    1. saya doong pernah terbawa arus,hahaha. Untungnya tidak tenggelam dalam arus. Rasionalisme cepat menyelamatkan saya. Kalau tenggelam dlm arus kenceng, mana bisa membiayai sekolah anak2 saya kelak?

      Segera hentikan sebelum menyesal seumur hidup 😀

      STEL itu emang istilah d kota saya yang mencerminkan hidup sok sosialita padahal aslinya melarat,xixixixi 😀

  2. alhamdulilah aku termasuk yang suka mikir seribu kali kalau mau belanja. malah kalau ke mall itu kadang nggak beli apa-apa. lebih bahaya ke pasar kalau aku biasanya. hihi

    1. samaan dong ka yana. Aku jg suka d rangkul sama pak suami klo ke pasar. Suka kalap belanjanya. Dan gak kepake. Kayak cabe,tomato gitu kan lama ga d pake ya pada membusuk,ckckckckckck..

      kalo aku suka kalap masuk gramedia. Mborong novel,hahahaha..

  3. Hmm sepakaat mbak, harus menghentikan budaya konsumtif. Karena yang menghambur-hamburkan alias boros aka konsumtif adalah temannya setan. mending buat investasi akhirat, lebih berkah :’) makasih mbak sharingnya, jd lebih mengontrol diri biar beli dan belanja secukupnya aja 😀

  4. uhuuukk, yg kemarin kabur ke mall gegara listrik kantornya padam bukanji budaya konsumtif #eehh gagal fokus, hihihih

    iyaaahh beeuhh itu budaya konsumtif memang sesuatu sekalinya beuuhh… harus direm betul2 apalagi mamak2 klo lihat diskon ampunmi 😛

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s