Ramadhan Challenge

Mengejar Sang ‘Diskon’

Bulan Ramadhan dan diskon-an seperti satuan mata uang yang tak terpisahkan. Bulan Ramadhan jelas bulan yang ditunggu kedatangannya karena faedahNya berbanding lurus dengan maraknya perusahaan memberi potongan harga sehingga memudahkan masyarakat membeli kebutuhan. Coba tengok toko-toko yang dagangannya bergerak pada trend fashion, pasti tidak jauh-jauh dari “diskon”. Sementara dagangan yang berfokus pada makanan/sembako, pastinya tidak jauh dari “paket hemat ramadhan” atau “paket murah ramadhan”. Karena bulan Ramadhan adalah momentum bagi penjual dan pembeli saling menguntungkan.

Diskon digunakan oleh penjual untuk menarik minat pembeli agar membeli produk yang ditawarkan. Ketika menerapkan diskon tentunya penjual telah memperhitungkan dengan bijaksana kiranya ia tak merugi.  Penjual menerapkan program diskon agar meningkatkan penjualan.

IMG_20160825_205307
Foto Ilustrasi : Model by Ucupyo. Fotografer : jelas mamaknya laaah 😀

Apakah Mengejar  Program Diskon Adalah Kesalahan?

Jawabannya tergantung pada perilaku konsumen. Bagi saya diskon bukanlah kesalahan, karena pada waktu tertentu saya membutuhkan harga diskon. Banyak yang mengatakan bahwa diskon itu sebenarnya harga asli dari sebuah produk. Ketika harga jual dinaikkan dari harga asli, disitulah minat pembeli kelihatan.

images

Apapun strategi penjual intinya kembali ke diri kita sebagai pembeli. Jadilah pembeli yang bijak dengan mengutamaklan kebutuhan dari pada keinginan tentunya. Terlalu menggilai diskon pastinya akan mendatangkan kerugian berupa :

  • Discount Addict

Tipe ini nih yang menakutkan, jika kecanduan, mengobatinya terasa berat. Jangan sampai lebih besar pasak dari pada tiang. Selepas berburu diskonan, terbitlah utang, no way deh gaes 😉

  • Membeli Barang yang Tidak di Butuhkan

Biasanya kasus yang kayak gini istilahnya “lapar mata”. Niatnya beli A karena memang kebutuhan, eh yang dibeli malah Z karena “ich, unyu deh barangnya” misalnya. Sehingga lebih mengedapankan keinginan ketimbang kebutuhan.

***

Momentum Ramadhan sering saya gunakan untuk mencari diskonan, apalagi yang berhubungan dengan “pakaian”. Pada hari normal harganya selangit yang sulit direngkuh oleh pegawai biasa kayak saya,hiks. Memilikinya pun sejenis  perjuangan berat jika saya nekat membelinya. Namun ketika momentum Ramadhan biasanya kena diskon 70%, disitulah saya suka loncat kegirangan minus salto tentunya. Kuncinya adalah melatih kesabaran,hehehehe.

Bukan cuman mantan loh yang seru dikejar *ajaransesat*. Harga diskonan pun tak kalah serunya untuk dikejar *halah*.

  • Menghemat Pengeluaran

Oh jelas kata dasar “hemat” disni perlu digaris bawahi. Sebagai ibu rumah tangga,mengatur keuangan agar tidak jebol adalah hal yang luar biasa. Mengekang keinginan untuk membeli barang yang tidak dibutuhkan merupakan godaan terbesar saat mengunjungi pusat perbelanjaan ternama dan terlengkap.

Adanya program diskon, jelas membantu menghemat pengeluaran yang lumayan membengkak pada momentum Ramadhan. Sulit untuk saya jabarkan secara gamblang mengapa hal demikian kerap terjadi, yang pasti banyak faktor mempengaruhinya. Salah satunya adalah faktor kebudayaan yang turun temurun yang dilabeli dengan akhiran ‘lebaran’.

Baju lebaran, sendal lebaran, tas lebaran, jilbab lebaran dan lain sebagainya. Namun bagi wanita pencinta dapur, tidak ada yang namanya bawang lebaran, cabe lebaran, ketupat lebaran,hahaha.

  • Pembeli Merasa Dimanjakan

Yups, kami sebagai pembeli bebas memilih barang-barang yang pada awalnya terasa mahal, dengan adanya diskonan terasa ringan, hingga mengantarkan kami ke kasir terdekat :D.

Jangankan untuk membeli, banyaknya barang-barang diskon membuat saya cukup betah berlama-lama di toko/pusat perbelanjaan untuk sekedar cuci mata. Terkadang saya keluar masuk ruang ganti hanya untuk mencoba-coba pakaian,wkwkwk. Toh tak ada larangannya kan? yang penting saya tidak mencuri pakaian yang saya masukkan ke dalam ruang ganti.

Atau mencoba kacamata kekinian yang harganya setinggi pohon beringin walaupun labelnya ‘diskon’ tetap saja harganya masih terasa mencekam :D.

  • Mempunyai Kesempatan untuk Mengkonsumsi Merek Lain

Pada hari normal biasanya produk aiueo yang sering ada diskonnya. Mencoba melirik produk lain dengan harga normal jelas akan melukai dompet. Namun, pada momentum Ramadhan, segala produk dilabeli ‘diskon’. Sehingga pakaian dengan brand ternama bisa saya dapatkan tanpa melukai isi dompet saya, cihuuuuui!

***

Akhir kata, bijaklah dalam mengejar diskonan. Karena manisnya diskon kita yang rasa demikian pun dengan pahitnya mengejar diskonan pasti bikin dompet menjerit ^^

 

with love
-Raya Makyus-

 

 

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Mengejar Sang ‘Diskon’

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s