Writting Day Challenge

Karena BAHAGIA Datangnya dari Hati

Jika bahagia bisa dibeli, mungkin saja saya sudah tak kebagian stok bahagia. Sold out laris manis -tanjung kimpul- terjual dan dibeli oleh mereka-mereka yang bergelimangan materi. Sayangnya, kebahagiaan tidak diperjual belikan karena ia adalah hak bagi setiap manusia untuk menikmatinya, merasakannya dan meresapinya dengan cara mereka sendiri. Gratis!

800px_COLOURBOX2104812

:.Bahagia Versi Ibu Raya.:

Bahagia itu sederhana. Karena kata bahagia maknanya luas, maka bahagia itu sesungguhnya cerminan jiwa kita. Jika dengan melihat cowok ganteng atau cewek cantik (misalnya loh ya) kita merasa bahagia, maka berbahagialah. Jika dengan melihat uang yang banyak dalam tabungan kita merasa bahagia, maka berbahagialah. Jika mendengar sahabat kita menikah dan kita merasa bahagia, maka berbahagialah. Jika dengan sujud kepadaNya tanpa ada gangguan dan khusyuk bisa membuat bahagia, maka berbahagialah.

Lihatlah, betapa bahagia tidak harus dengan dibayar dengan rupiah. Karena kebagahagiaan terpancar dari jiwa kita yang tanpa syarat mengeja bahagia dengan sendirinya.

Nah, karena bahagia bersumber dari jiwa kita, diri kita sendiri, maka sumber inilah yang harus kita jaga. Yang harus selalu di asah agar mampu mengeluarkan hormon yang membangkitkan rasa bahagia. Dengan cara :

Belajar Menerima Diri Sendiri

Tak ada yang lebih baik selain menerima diri kita apa adanya. Memang sih terkadang rumput tetangga jauh lebih seger ketimbang rumput sendiri. Namun taukah penderitaan apa yang mereka rasakan dibalik keindahannya yang hanya tampak luarnya saja?

Terkadang kita membandingkan kebahagiaan yang dimiliki oleh orang lain dengan kebahagiaan yang  kita miliki. Misalnya, ich si A sudah punya rumah beserta mobil, sementara saya cuman naik motor plus ngontrak 1 kamar di rumah mertua,pula!

Coba raba hati secara menyeluruh. Sentil perlahan. Tanyakan, apakah ia bahagia meskipun raganya cuma naik motor? tanyakan, apakah ia bahagia walaupun masih tinggal di rumah mertua? Tanyakan! Dan temukan jawabannya secara jujur. Mulut bisa berbohong, tapi kata hati tak pernah mendustai raga. Ragaaaaaa… ini cintaaa *halah*.

Follow your heart but take it with your brain

Bagaimana kita bisa mengeja makna bahagia kalau kita sendiri memilih mengingkari kebahagiaan yang terletak dalam hati dengan membandingkan kebahagiaan yang dimiliki orang lain? Karena manisnya bahagia kita yang rasa, jadi jangan pernah memaksakan diri mengikuti kebahagiaan orang lain. Nanti kamu sakit!

♥ Sudahkah Anda Bersyukur?

Mengucap syukur ketika sampai detik ini kita masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk menghirup udara segar, menikmati mentari pagi, bisa berolahraga, berkumpul bersama keluarga, pekerjaan yang baik dan banyak lagi. Bersyukur kepada Allah merupakan salah satu kebahagiaan yang tak terucap secara lisan namun mampu menggedor pintu langit untuk sekedar berkata “terima kasih ya Allah atas karunia ini“.

Walaupun jenis kebahagiaan yang Dia berikan kepada kita berbeda, namun yakinilah bahwa Dia tak pernah membebani umatNya diluar batas kemampuan umatNya. Jadi, walaupun kamu cuma naik motor, bersyukurlah karena bisa menyelinap di antara ratusan mobil ketika injury time ke kantor. Dan ngontrak di rumah mertua? bersyukurlah karena kamu bisa menabung mengumpulkan pundi-pundi membangun istanamu kelak di waktu yang telah Allah siapkan. *ciyeeeeh kebablasan curhat tuh*.

Tidak ada ruginya kita senantiasa mengucap syukur, dengan demikian maka segala sesuatu akan hidup kita Allah cukupkan. Gak ada harta? Allah kasih kita rasa cukup. Sakit? Allah kasih kita rasa cukup. Sendiri? Allah kasih kita rasa cukup.

Yang membuat kita sengsara itu bukanlah kita kekurangan harta, bukan kita sendiri. Yang membuat kita sengsara itu hati kita tidak cukup merasa bahagia. Terlalu kecil ruangnya untuk bahagia, hingga kita selalu merasa hampa.

♥ Bersedekah

Salah satu cara terbaik untuk selalu berbahagia ketika kita bermanfaat bagi orang lain. Caranya dengan bersedekah. Zaman saya masih single dulu *weeeitz mulai curhat* saya paling sering menyedekahkan perasaan saya untuk orang lain,hiiiks. Mengikhlaskan perasaan saya terhempas. Lalu saya menangis terseok-seok di bawah mimbar mushola kampus. Lalu meratapi nasib. Sampai saya divonis TBC –Tekanan Batin Cinta– oleh dokter spesialis patah hati.

Namun saya mencoba setrong, karena sependek pengetahuan saya, jika kita bersedekah, maka Allah akan melipat gandakan pahala kita dan akan mengganti dengan jumlah yang tak terhingga. Tak lama berselang, Allah menggantikan sedekah perasaan saya menjadi sebuah kebahagiaan yang hingga kini tak pernah padam. Itu salah satu contoh ala Ibu Raya.

Contoh lainnya bersedekah dengan membantu saudara kita yang membutuhkan. Bantuan berupa materi ataupun non materi. Dengan cara itu mampu mengikis sisi egois dari diri kita. Walaupun kehidupan kita pas-pas-an, namun ketika memberi bantuan secara ikhlas, hati kita tuh semacam memancarkan sinar yang mampu menghangatkan jiwa dan raga. Kehangatan itulah yang saya sebut “bahagia”.

:.Apakah Ibu Raya Sudah Bahagia?.:

And i say, Insyaallah YES! Karena kebahagiaan saya yang olah dengan cara saya sendiri 😉 . Gak pake tutorial,hahahaha. Senantiasalah bersyukur atas segala sesuatu atas diri kita, agar Allah cukupkan hati kita dengan kebahagiaan.

Sekarang ini kebahagiaan menjadi sesuatu yang mahal harganya. Padahal bagi yang mengerti, kebahagiaan itu terletak di dalam hatinya sendiri. Hati yang sederhana. #MengejaBahagia #MaknaBahagia.

Bahagia itu ketika tulisan saya ini dinyatakan sebagai pemenang! wkwkwkwkwk *kemudianmenghilang*

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveawaynya masbro Parmantos & Mbak Rifa Roazah 
Dengan tema #Mengeja Bahagia

with love
-rayamakyus-
Iklan

23 tanggapan untuk “Karena BAHAGIA Datangnya dari Hati

      1. Buat ngejalaninya susah mbak yg kayak di atas maksudnya ha ha ha…. teorinya masuk akal dan bagus, cuma saya bingung mengaplikasikannya mulai dari mana?

        1. Heeeei.. salah satu item di atas tuuuh sy nyontek loooh dr postingan kamu yg apaaa gitu (lupa judulny) dan sy komen d dalamnya,hahahaha..

          Mulai dr tulisan kamu yg bagian pertama,giih.. hargai diri sendiri *eaaa

    1. Assalamualaykum mbak Dwi. Terima kasih sudah berkomentar, dan saya bahagia! *halah* *salim*.
      Betul-kan mbak, disaat kita merelakan dengan hati yg lapang dan ikhlas, awalnya memang terasa berat dan menyakitkan. Tapi balasanNya bikin senyum merekah berhari-hari sampai saat ini :). Alhamdulillah ^^

      1. Tapi untuk saat ini itulah yang buatku bahagia mbak e. hahahaha 🙂
        .
        .
        .
        .
        ((wehehehehehe, umur aja baru 1 bulan. hahahaha. Istighfar mbak e, istighfar. hehehe))

  1. Sudahkah saya bersyukur? Duh, pertanyaan yang susah. Saya sendiri ngerasa takabur terus-terusan dan sering mengeluh. Padahal bersyukur bisa dimulai dari hal terkecil lalu lama-lama bisa terbiasa. Masih belajar.

    Salam kenal mbak.

    1. Salam kenal kembali.
      Sampai detik ini pun saya terus belajar bersyukur akan aapun dalam hidup ini 🙂
      Maklumlah sebagai manusia biasa godaannya kenceeeng banget!

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s