Diari Bu' Raya

Pengalaman “Gang Photoshoot” di Studio Foto Kendari

Dalam dunia sosial, gw terjerumus dalam kumpulan individu dengan berbagai watak yang berbeda semenjak kami ditakdirkan menempati ruang kelas III pada zaman SMA. Kedekatan yang bermula dari kerja tugas fisika bareng, lalu hangout bareng, saling ngutang dan numpang makan gratis di rumah teman kelas menjadikan kami ketagihan? Ketagihan mencintai gratisan! hahahaha.

Yang entah siapa yang memulai karena keakraban kami yang terjalin dari SMA menjalar hingga memasuki dunia pendidikan strata 1 hingga kami beregenerasi memunculkan generasi baru yang mungkin saja akan mewarisi kedekatan kami, orang tuanya.

Adalah gang WFL yang mana jika kami menyebut nama tersebut membuat bulukuduk merinding seperti sedang kelilingi makhluk astral,xixixixi. Padahal kejayaan kami kala itu mengarungi tebing tinggi dan beberapa jenis wisata Kota Kendari jika kami mendatanginya kami tak perlu memiskinkan dompet,hahaha. Maklumlah, kami anak kuliahan! Jadi sangat mencintai gratisan.

Sepenggal kisahnya bisa diintip disini : When I’m Missing You

****

cats

Karena selama ini kami hanya berpose dengan menggunakan ponsel, belom lagi di edit di cerah-cerahin sampe muka kayak mayat hidup saking putihnya. Atau muka muluuuuuus banget yang kalau cicak hinggap bisa sampe patah tulang saking mulusnya hasil editan, maka kami memutuskan sesekali laaaaah mejeng di studio foto yang menggunakan kamera canggih dan diarahkan gayanya oleh fotografer yang terbiasa mengatur gaya customernya.

Apalagi salah satu personil gang kami ada yang hidup di luar area Kendari, yang rela meninggalkan daerahnya demi mengejar surga mengikuti kemana kaki suaminya melangkah, maka momentum dia pulang kampung adalah momen yang pas untuk gang phoshoot bersama keluarga masing-masing.

Gw yang didaulat sebagai ketua panitia ditugaskan untuk mencari studio foto yang buka pada saat H+4 lebaran. And i got it. Kebetulan banyak yang mereview kalau studio foto tersebut lagi hitz banget di Kendari. Diputuskanlah hari sabtu kala itu. Ajegileeee antriannya panjang bowk! Maka jadilah gw keep untuk keesokan harinya dan anggota gang mesti siap untuk jadi model dalam beberapa menit.

Sial pangkat sejuta, kami salah ngambil paket foto saking excited mau di foto pake kamera professional,wkwkwkwk. Ternyata, kalau mengikut sertakan anak balita dengan tingkat kerempongan yang tinggi, paketnya emang beda dari biasanya dan seharusnya H-1 sebelum kejadian. Karena mengatur anak balita lebih susah ketimbang ngerampok isi dompet suami, ckckckck.

Show must go on. Mau gak mau, suka gak suka, setuju gak setuju hari itu juga kita mesti berfoto, karena keesokan harinya nyai Ripa yang tadi gw jelaskan tinggal di luar kota akan kembali ke habitat barunya. Sesuai dengan paket yang telah disepakati sebelumnya.

****

Kebayang doong fotografernya mengarahkan 4 anak balita aktif-lincah dan gesit PLUS 1 bayi dengan orang tua mereka yang gak kalah rempongnya. 1 balita saja sudah melelahkan, jendral! Apalagi 4. E-M-P-A-T! dengan tabiat yang sama.

Masih atur formasi saja para balita sudah mengacaukan studio foto yang sayangnya saat itu luput dari kamera ponsel kami. Ada yang ngambil gitar, ada yang narik-narik kabel. Ada pula yang sook mau ngegantiin posisi fotografernya,hahaha. Gaduh, pemirsah! Kalau yang kesabarannya tingkat tinggi pastinya sanggup ngadepin ke 4 batita tersebut,hahaha.

Belum lagi saat fotografernya mengarahkan kami dengan mengatakan “ready take, one.. cwuuu… cwriii..” kompak para balita jejeritan. Yang mengherankan mereka jejeritan kayak ketularan virus flu. 1 yang tereak yang lain ikut tereak juga.

Padahal fotografernya punya asisten khusus yang bertugas merampok hati balita-balita heboh ini loooh dan alhamdulillah…..

Gak mempan! wkwkwkwkwk.

“Aduh paaak, anaknya doong di pegang”

“Pak,senyum”

“Bapak ini jangan manyun”

“Bapaaaak, anaknya lepas”

Hasilnya?

GAGAL TOTAL!

Perhatikan foto di bawah ini :

cats

cats1

Sementara kami para ‘mak-‘mak stay cool sambil senyum yang diumbar secara maksimal,huwahahahaha. Awalan kami para ibu yang memegang anak masing-masing. Hanya saja, jiwa kelaki-lakian mereka mengatakan, akan lebih macho jika berfoto bersama bapak ketimbang mama. Mama cukup jatah ngeASI saja!

Fotonya Cukup?

Gak! Kami mengambil formasi gang utuh. Ya sud-lah kesihan bapak-bapaknya pada kelelehan. Sebagai gantinya, mereka membiarkan para balita lincah berekpresi dengan lingkungan mereka. Ya kaleeee salah satu mereka ada yang bisa menjadi fotografer handal dan membuka studio foto juga *Lirik anaknya Ibu Raya*.

Sebenarnya gang gw 1 orang yang gak ada dalam foto tersebut. Seorang bapak! Saat itu beliau lagi di kampoeng halaman. padahal udah di informasikan kalau pada hari tersebut kita bakalan gang photoshoot. Setelah foto tersebut tayang di medsos, barulah beliau jelez tingkat kecamatan. Rasain! wkwkwkwk.

I dunno why yang jelasnya kala itu kami tuh semacam keterlelahan. Atau fotografernya yang badmood duluan karena capek motretin balita-baliota lincah kami? haha. Yang jelasnya, hasil yang kami inginkan tak sesuai ekspetasi.

Ekspetasi kami seperti ini :

ekspetasi 1

Sumber : Google Source

atau

ekspetasi 2
Sumber : Google Source

Yang dikit antimainstream-lah yaaaa.. Tapi hasilnya lumayan cool sih *narseees :p* .

19437455_1331367616970297_1317242719402894410_n

Setelahnya, sahabat gw yang 2 lelaki itu tak enak hati kepada ipars mereka yang sibuk nggendongin dan main sama anak, sementara para emaksnya masih sibuk pepotoan,hahahaha.

“Aduh gayanya itu-itu terus sih bu? ganti gaya dong!”

Ealaaaaah fotografer, kami tuh jadi gugup gempita karena pesona kameramu, tauk! *halah*. Dan gw-lah yang paling kena tegor kala itu, gw yang paling disoroti. Karena gw yang gayanya paling awut-awutan! Padahal menurut gw, gaya tersebut anti mainstream loooh. Jadi walaupun posisinya gitu-gitu ajah, tapi cukup berwarna *ngeeeekngoook*.

cats 3

Padahal gw tuh maunya foto kayak gini : Pose ngerumpi sholehah.

ekspetasi 3
Sumber : google source

The last, inilah pose cover boy kami *eaaaaa.

19510207_1331900660250326_7670724802427830912_n

****

Berdasarkan pengalaman di atas, maka dapatlah ditarik kesimpulan :

  • Jika mengusung tema “Family Gang Photoshoot” sebaiknya hubungi pihak studio foto jauh hari sebelumnya. Supaya mereka gak kaget  yang tetiba kedatangan customers dengan balita aktif.
  • Tentukan tema dari pomotretan kalian, agar fotografernya punya bayangan, mau dibawa kemana hubungan kita gaya kalian *halah*.
  • Dandannya minimalis saja, karena hasil kamera fotografi sangat natural dalam membidik gambar. Kayak gw doong, yang dikira nggendong cucu ketimbang gendongin anak,hiiiiks!
  • Sebaiknya kalau memang mau family gang photoshoot di rumah saja. Sewa kamera profesional siapa kek. Atau sekalian sewa jasa fotografer. Hare genee banyak kelleus orang yang amatir dalam dunia fotografi, tapi karena kamera yang mumpuni sehingga hasil bidikannya, juara!

Kapokkah Berfamily Gang Photoshoot?

Tidak doong! Hahahahahahaha *dasar ‘mak-‘mak banci kamera* 😛
Iklan

Satu tanggapan untuk “Pengalaman “Gang Photoshoot” di Studio Foto Kendari

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s