Blablabla

Resolusi 2018

Hai, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Welcome back to my blog!

resolusi hidup 2018

Kali ini, gue mau membahas tentang resolusi 2018. Resolusi hidup gue tentunya. Ngapain coba mbahas resolusi hidup orang lain misalnya kan ya? Sementara resolusi gue syukur-syukur ada yang dikabulkan olehNya. Sepertinya setiap tahun gue sering beresolusi dan berharap ekspetasi gue berbanding lurus dengan kenyataan. Sesempurnanya kita menyusun resolusi, kalau Tuhan tidak meridhoi, say good bye dagh! hahahha.

Tapi bukan Raya Makyus namanya kalau cepat lunglai jika di tolak angin resolusinya. Zaman kuliah, gue tipikal mahasiswi sok cantik, harum mewangi sepanjang hari, rajin menabung dan sering rusuh sama sopir angkot yang semangat 4-5-6 mengejar cinta dosen pembimbing supaya skripsi gue di ACC dan gue sidang! Sebodo dagh sama isi skripsinya! wkwkwkwk. Justru karena itulah gue tertempa menyelesaikan skripsi yang menurut gue biasa ajah namun ternyata paling banyak dicontek junior gue di kampus,ckckckck. Nah, kurang lebih seperti itu pula-lah resolusi hidup gue kemarin-kemarin. Indah di judul payah di isi!

Sepenuhnya gue menyadari, seharusnya resolusi itu rahasia antara gue dan Allah, bukannya diumbar kemana-mana yang menjadikan resolusi gue kehilangan originalitasnya ketika menembus pintu langit *tsaaaah*.

Percaya gak percaya, zaman skripsi dulu, rerata resolusi hidup gue banyak yang dikabulkan olehNya. Padahal gue tulisnya segede semut dan ditempelin di dinding kamar. Iseng-iseng doang, biar kamar gue rame! Jadi isinya bukan hanya rumus turunan kimia atau posternya John Egi Foreisty. Justru dikabulkan!

Gimana gak dikabulkan cooba? kalau gue meletakkan tulisan sebesar semut itu di jidat gue. Yaaaa, 5 cm gitu dari jidat *ahaaaa kayak hapal dialog ini* 5 cm mengambang di depan kening gue. Lalu, kaki gue yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan gue yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata gue yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher gue yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa. Nah loooo!

Jika meninjau resolusi gue selepas kuliah, rata-rata tulisannya segede dinosaurus. Herannya, kaki gue justru malas melangkah. Tangan gue kaku. Cuman mulut gue doang yang rajin komat-kamit minta di ACC sama Allah. Yaaa gak jalan-laaah! Bukankah keringat tak akan pernah mengkhianati usaha? Keringat yang merupakan perpaduan kata hati dan otak yang menuntunya berjalan mendekati resolusi hidup?

Lalu apakah karena jarangnya resolusi gue terkabulkan gue akan stagnan ber-resolusi? Jawabannya tidak dooong! Resolusi hidup bagi gue, semacam sebuah rancangan, mau dibawa kemana masa depan gue gitu loh? Sebuah pengharapan ke arah yang lebih baik pastinya.

Kalau divisi keuangan setiap tahun membuat rancangan penggunaan anggaran selama setahun. Jadi selama keinginan kita ada dalam rancangan yang telah disepakati bersama, maka kita dapat menggunakan anggaran yang ada dalam rancangan tersebut. Sepertinya hal tersebut berlaku pula pada resolusi hidup yang gue maksudkan.

:. So, inilah dia resolusi hidup RAYA MAKYUS .:

*diiringi lolongan anjing seperti dalam film horor*

PLACE YOUR TEXT HERE

Yang sering pantengin isi blog ini pastinya tau perasaan gue yang ingin merdeka mengurusi rumahnya sendiri, hahaha. Padahal gue tinggal sama orang tua looh. Bukannya mertua.

Sejujurnya orang tua gue bukanlah tipe pengatur rumah tangga anaknya. Apalagi rumah tangga orang lain, hahaha. Pantaaaangan! Hanya saja gue yang gak enakan. Selama hidup gue di jaga sedemikian rupa dengan sempurna oleh orang tua gue.

Bahkan Ucupyo, ketika gue ngantor di jaga sama orang tua. Sebagai anak, gue kasihan kepada mereka. Usia mereka bukan 17 tahun looh yang tulang dan persendiannya masih cucco parucco. Gue udah menawarkan win-win solution, gimana kalau Ucupyo gue bawa ke PAUD, semacam Smart School gitu. Full day school. Yang ada gue dimarahin, cyiin!

Pemberitaan media tentang anak yang dipukuli oleh susternya atau gurunya di sekolah, maraknya penculikkan anak dan masih banyak kasus lainnya membuat orang tua gue ngeri duluan. Membayangkan cucu mereka yang aktifnya luar biasa diperlakukan seperti pemberitaan tersebut.

*Naudzubillahmindzalik*

Alasan lainnya, gue ingin menjadi ratu di dalam rumah gue. Aturan yang dipakai aturan gue, dan gue punya wewenang penuh terhadap isi rumah beserta anggotanya, wkwkwkwk.

PLACE YOUR TEXT HERE(1)

Setidaknya, gue punya ahli waris yang akan mewarisi baju yang gue beli secara online. Baju princess yang tak sesuai dengan tabiat gue, hahaha. Lagian sunyi juga sih kalau cuma punya 1 anak. Ucupyo kini berusia 3 tahun 4 bulan, sudah pintar alhamdulillah. Sudah bisa diperintah beli garam di warung dan tau-tau yang dibeli permen lolipop, hahaha. Gue menginginkan Ucupyo tertempa menjadi seorang kakak, yang melindungi adik-adiknya kelak.

Awalnya ekspetasi gue memiliki 5 anak, sama seperti rukun islam dan pancasila yang memiliki 5 point. Gue mau ketika gue berpulang misalnya, ada yang senantiasa menerangi jalan gue dengan doa mereka. Punya 5 anak pastinya seru dan rame!

Seiring berjalannya waktu, ketika Allah menghadiahi gue Ucupyo, mulailah ekspetasi gue menurun. 3 anak ajah! hahaha. Bukan perkara hamil dan melahirkan yang membuat ekspetasi gue menurun, melainkan anak-anak gue siapa yang mau jagain disaat gue ke kantor? Zaman now, mencari asisten rumah tangga lebih sulit ketimbang cari pasangan hidup!

PLACE YOUR TEXT HERE(2)

Gue berencana menjebloskan Ucupyo ke sekolah Taman Kanak-Kanak. Walaupun umurnya belum cukup 5 tahun, gue mau ia bisa bersosialisasi dengan teman sebayanya. Kebanyakkan gaul sama orang dewasa membuatnya super-duper MANJA banget-sekali.

Pernah gue ajak dia ke acara ulang tahun sepupunya di salah satu warung makan gitu lah. Di saat anak-anak lain sibuk menyaksikan dengan khusyuk jalannya acara, Ucupyo malah ngacir dan menggabungkan diri ke bapaknya yang lagi asyik ngobrol sama teman-temannya, ckckck.

Makin kesini anak gue yang merupakan kembaran Gu Jun Pyo menunjukkan sifat introvert. Pendiam, tidak menyukai keramaian dan lebih terbuka ketika di rumah ketimbang di luar rumah.

Harapan gue, ketika ia mulai bersekolah, otomatis ia akan memiliki teman dan akan mudah bergaul. No problemo sih kalau Ucupyo memang sosok introvert, namun ia tetap bersosiali agar lebih bijak menghadapi dunia yang fana ini *tsaaah*.

PLACE YOUR TEXT HERE(3)

Seharusnya ini menjadi point pertama, pemirsah! Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Sehat, senantiasa gue identikkan dengan memperpanjang harapan hidup. Melihat fenomena life style sekarang ini tentunya akan memicu kemunculan penyakit yang tidak ada dalam riwayat kesehatan kita.

Contohnya, dulu tuh kalau mendengar kata ‘diabetes’ pasti penyakit keturunan nih atau pasti usianya sudah menanjak atau kebanyakkan makan gula tuh dan banyak lagi spekulasi yang ada di dalam benak kita. Tetapi kini, diabetes menyerang bukan hanya usia yang mulai menua, bukan pula akibat genetika (keturunan). Anak SMA pun yang usianya masih belasan tahun sudah divonis diabetes.

Pola makan menjadi pemicu utama. Maraknya makanan cepat saji dan tidak ditunjang dengan olahraga teratur dan pola hidup yang baik membuat penyakit degeneratif (penyakit tidak menular) menyerang masyarakat tanpa melihat usia dan jenis kelamin. Kita juga ndak bisa menutup mata dengan fenomena sekarang ini. Bohong banget kalau gue misal tidak tertarik makan junk food yang gue tau makanan tersebut mengandung gula dan garam berlebih.

Masalahnya sekarang ini, pola makan orang sudah berubah. Gajian, makan-makan. Ulang tahun, makan-makan. Pesta bujang, makan-makan. Jarang loh memilih makanan rumahan sebagai menu. Kebanyakkan di tempat keramaian sambil nongki gitu. Dan sajian menunya yang tinggi kandungan gula atau garamnya.

Semenjak gue divonis kolesterol tinggi oleh dokter, gue mulai merekonstruksi kebiasaan buruk yang gue jalani. Gue pun memilih step by step menghentikan kebiasaan buruk tersebut yang tanpa sadar telah merampas hak gue untuk menikmati makanan-makanan enak.

Kini, yang ada dipikiran gue bagaimana caranya gue bebas kolesterol. Bagaimana caranya gue sehat. Karena gue gak akan membiarkan anak-anak gue dihadiahi ibu tiri, ibu angkat atau ibu asuh karena ibu kandungnya telah berpulang karena pola hidupnya yang jelek! Big No!

*Naudzubillahimindzalik*

Ibu adalah tiang bagi keluarganya. Jadi yang namanya ibu, sehat adalah HARGA MATI!

PLACE YOUR TEXT HERE(4)

Disadari atau tidak, kelemahan gue sebagai perempuan adalah GHIBAH! Alias bergosip. Alias menceritakan kejelekkan orang lain. Adapun kalau memang yang gue ceritai itu adalah kenyataan, artinya gue ghibah! Jika hoax, artinya gue menfitnah orang lain dong yang hukumannya paraaah!

Ghibah ini sebenarnya tanpa gue sadari tiba-tiba ajah gue masuk ke dalam lingkar perkumpulan orang-orang yang sedang berghibah. Mendengar mereka sedang menceritakan orang lain dan saat itu pula terbentuk mindset yang gue dengar dari mereka.

Emang yaaa kalau mencubit orang lain tuh enak bener, tapi coba mencubit kulit sendiri, pediiiiiis! Olehnya mengapa kita dilarang berghibah karena sama halnya dengan memakan daging saudara sendiri.

Dalam bermasyarakat tentunya ada orang yang kita sukai dan ada pula sebaliknya. Karena Allah menciptakan manusia-kan unik! Antimainstream! Ga ada samanya. Walau wajahnya mirip, tapi karakternya berbeda. Disinilah tantangan kita sebagai generasi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam*sok alim wae*.

Bagaimana kita bisa meneladani beliau ketika bermasyarakat. Dikisahkan, musuh beliau yang nyatanya jahat, tapi beliau tetap berbuat baik kepadanya. Olehnya, kita sebagai umatNya, diinstruksikan mencontohi sifat nabi, bahwa kehidupan yang dicintai langit dan bumi seperti yang di ajarkan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

PLACE YOUR TEXT HERE(7)

Kedengarannya kayak pencitraan ya? hahaha. Firasat gue mengatakan bahwa umur bumi tidak lama lagi. Banyaknya kemunculan berita aneh dan kekacauan di muka bumi menginsyaratkan ‘Heeeei, hanya ALLAH penolongmu‘ ketika tiba masanya seluruh perbuatan kita selama hidup akan di pertanggung jawabkan.

Pengalaman gue bekerja di divisi keuangan, yang bahkan Rp 1,- dipertanggung jawabkan penggunaanya lebih membuka mata hati gue, bagaimana dengan perbuatan kita selama di dunia? Pastinya keseluruhannya akan dimintai pertanggung jawabannya.

Point terakhir ini sebenarnya kesimpulan dari semua resolusi yang gue beberkan di atas. Karena gue yakin, ketika kita dekat denganNya akan ada banyak hal yang lebih membahagiakan yang Dia hadiahi ke kita. Seperti janjiNya dalam surat Al-Baqarah ayat 186,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ‌ۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ‌ۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِى وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِى لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ

Artinya: “Dan apabila bamba-bamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 186).

Sependek pengetahuan gue, salah satu cara mendekatkan diri kepada Sang Khalik adalah mengerjakan perintahNya dan tentunya menjauhi laranganNya. Simpel bangetkan? Jika dirasa masih memberatkan, cobalah untuk shalat tepat waktu. Dengan shalat, akan tergerak hati kita untuk melaksanakan kebaikan dan menjauhi keburukan. Karena Dia sangat dekat dengan hambaNya, maka Dia akan menuntun ke arah kebaikan.

Jika kita dekat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mampu merayuNya dengan doa yang menembus langit maka resolusi hidup kita insyaallah akan terkabulkan. Tak perlu menunggu tahun berganti, sekarang pun, jika Dia ridho Kun Faya Kun, maka jadilah!

Kenapa point ini gue rasa perlu di masukkan ke dalam list resolusi? Karena sejujurnya gue merasa, gue belum sebegitu dekat dengan Pencipta gue. Terkadang, gue masih mendahulukan pekerjaan ketimbang shalat di awal waktu, utamanya waktu shalat dhuhur atau ashar. Sehingga menjadi self reminder bagi gue. Namun jika gue sedang kesusahan dan menderita, Dialah yang selalu gue datangi. Menggedor-gedor pintu langit dan menangis meraung-meraung. Dasar hamba tidak tau malu! 😀

****

Semacam resolusi yang panjang ya? hahahha. Namanya juga harapan :D. Demikianlah resolusi gue untuk tahun 2018. Oh iya, kalau resolusi kalian kedepannya seperti apa? Komen dooong!

-Raya Makyus-

Iklan

16 tanggapan untuk “Resolusi 2018

  1. resolusinya bagus terutama mendekatkan diri ke Pencipta, aku juga ngerasa jauh banget sama Tuhan, mendekati Dia kalau lagi butuh atau lago sedih, pas seneng-seneng malah ngelupain yang udah menciptakan kita di muka bumi ini, semoga Resolusi Mba Raya terkabul semuanya, amin… Selamat Tahun Baruan….

  2. Resolusinya sungguh cuco meong sekali Ray. Gw doain smoga terlaksana, dilancarkan dan dimudahkan sgalanya ya. Ucupyo butuh adik-adik yg lucu yaaaa …. hihihi

  3. Aseekkk asekkkk, semoga tahun ini giliran Mama Raya yg hamil *sodorkan sayuran sebanyak2nya, katanya klo mau anak cewek makan sayur, tp saya kemarin krna blm sempat program jadinya asal dikasih saja, Alhamdulillah 😁

    Uhuukkk, wish yg paling terakhir itu naaahh.. Duuhh akooohh juga maauu, Aamiin daahhhh

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s