Opini

Apakah Pekerjaanku Berkah?

Apakah Pekerjaanku Berkah_

Banyak yang bekerja dengan keras hingga waktu terasa berlalu begitu cepat. Api semangat dalam bekerja begitu menggelora. Seakan tak mungkin dipadamkan. Bahkan tidak jarang terkena ‘lahapan api’ itu sendiri. Hidup fokus hanya dalam bekerja dan berkarir hingga lupa dengan sisi kehidupan yang lainnya. Segalanya diabaikan demi fokus pada pekerjaan. Hatinya mati, jiwanya merana.

Berbicara masalah keberkahan dalam berkerja tentunya tidak terlepas dari pertanyaan :

  • Bagaimana kerja itu bernilai ibadah?
  • Mengapa perlu menjadikan kerja sebagai ladang ibadah?
  • Bukankah bekerja itu hanya untuk mencari uang?

Ketika lulus dari kuliah, yang terpikirkan adalah bagaimana caranya mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan yang sesuai dengan hayalan. Sampai-sampai pekerjaan yang kita jalani terkadang tidak linear dengan pendidikan yang kita tempuh. Ya kembali lagi, untuk meneruskan hidup, tentunya butuh materi. Dari mana mendapatkan materi? Jawabannya satu. Pekerjaan yang merupakan kata dasar dari kerja, yakni melakukan usaha.

Tak perlu menutup mata, di zaman sekarang ini, tidak asing lagi bagaimana sebagian besar orang terlihat begitu keras dalam bekerja. Terlihat wajah-wajah yang begitu tegang dengan berjalan tegap dan langkah yang begitu cepat. Namun, di sisi lain kita juga melihat begitu santainya orang dalam bekerja. Bekerja ala kadarnya sambil main onet. Raut muka terlihat santai dan seperti tak ada beban.

Mencari nafkah bukan masalah banting tulang. Nafkah erat kaitannya dengan ketaqwaan. Sungguh Allah telah berfirman menjelaskan tentang hal ini,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

            “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Ath-Thalaq: 2-3).

Keberkahan bekerja bukan kuantitas berapa lama kita bekerja, tetapi kualitas iman taqwa dan ikhtiar yang maksimal. Ikthtiar yang maksimal bukan bekerja hingga jam 11 malam nine to five, lalu weekend digunakan untuk melanjutkan pekerjaan. Sehingga kita lupa belajar, lupa kewajiban sebagai istri atau suami misalnya dan parahnya lagi lupa kewajiban sebagai hamba Allah.

Ini yang ndak berkah!

Akhirnya kita diperbudak oleh pekerjaan. Diperbudak oleh dunia. Hewan dan tumbuhan saja bertasbih memuji kebesaran Allah, masa kita manusia yang memiliki akal dan pikiran lupa bertasbih padaNya?

Allah memberi kita waktu 168 jam/minggu. Masa ndak ada waktu untuk belajar agama? Belajar agama dimana saja bisa. Apalagi zaman sekarang dimana kemajuan teknologi semakin pesat, memudahkan kita untuk mencari informasi yang berguna dan positif tentunya.

Bisa dengan membaca buku, menonton ceramah di channel youtube, berdiskusi dengan teman yang pemahamannya lebih luas atau mendatangi majelis ilmu. Nabi dan Rasul umatnya banyak, pimpinan perang tetapi mereka masih bisa belajar agama. Lah kita? Presiden bukan! Mentri bukan! tapi semacam ndak ada waktu untuk belajar agama.

Jika semakin diperbudak dunia, kita semakin sengsara. Intinya, bagaimana kita bisa mengatur waktu sesuai al-qur’an dan sunnah.

***

lalu apakah yang salah_

Sesungguhnya tidak ada yang salah dalam mengejar karir. Tidak ada yang salah dalam bekerja keras. Semuanya sah-sah saja dan pantas dilakukan untuk meraih apa yang menjadi tujuan dan impian.

Yang salah adalah ketika dalam berkarir menjadikan kita lupa dan acuh terhadap sekeliling kita. Acuh dengan hal yang sama pentingnya bahkan lebih penting. Efek dari semua itu sering kali membuat kita lupa dengan keluarga, berinteraksi sosial hingga ibadah pun terbengkalai. Maka apakah berkah jika seperti itu cara kita bekerja?

lalu apakah yang salah_(1)

Sesungguhnya hanya Allah yang tau apakah yang kita kerjakan selama ini adalah yang Dia cintai atau tidak. Tapi sebagai hambaNya, kita patut berikhtiar sebaik mungkin. Berikhtiar mengikuti apa yang Dia perintahkan, karena sejatinya apapun yang Dia perintahkan adalah yang terbaik bagi umatNya.

Janganlah hanya fokus berkarir. Belajar juga memikirkan sisi lain dalam hidup ini. Ada anak yang haus kasih sayang orang tuanya, apalagi pada masa keemasan anak yakni 0-5 tahun memanglah penting peran orang tua dalam tumbuh kembangnya.  Ada suami atau istri yang menuntut haknya di dalam rumah, misalnya. Bersilaturahmi kepada keluarga ataupun tetangga dimana efek positif silaturahmi adalah memperpanjang harapan hidup dan lain sebagainya. Hal-hal kecil semacam ini justru yang membuat hidup menjadi lebih berwarna.

Begitupun dengan menjalani pekerjaan, jauhilah hal-hal yang membuat Tuhan murka pada kita. Bekerjalah sepenuh hati dengan mengharap keridhaanNya. Lakukan tupoksi sebagai bentuk ibadah kepadaNya. Senantiasa meminta pertolonganNya agar dijauhakan dari pekerjaan yang kita yakini lebih besar mudharatnya ketimbang manfaatnya

Dengan begitu, semoga kita semakin bijak dan dewasa memahami situasi lingkungan sekitar. Hingga semakin tinggi kedudukan atau jabatan karir, akan sangat membantu dalam menentukan kebijakan dan penyelesaian masalah. Marilah kita terus berdoa agar senantiasa diberika keberkahan dalam bekerja. Diberikan kemudahan dan tentunya bermanfaat bagi orang lain.

«Genggamlah dunia di tanganmu dan letakkan akhirat di hatimu, agar kamu senantiasa mengingat akhirat tanpa melupakan dunia»

Jangan ditegooor, penulisnya lagi insyaf

-Raya Makyus-

 

 

 

6 tanggapan untuk “Apakah Pekerjaanku Berkah?

    1. Kebaca banget ya? Padahal curhatannya berbulu banget ituuuh, wkwkwk..
      Persoalan risau sih alhamdulillah tidak, namun, saya tuh punya impian yang belum tercapai, Bijo. Gemeeeezh jadinya, hahahaha.

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s